MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS II
STIKes BANTEN, BSD CITY, TANGERANG SELATAN
(4 X 45)
Untuk memulai analisis keterampilan subordinate, perlu untuk memiliki gambaran yang jelas dari tugas utama mahasiswa dan perlu melakukan pencapaian tujuan pembelajaran.
Dalam melakukan analisis ketrampilan subordinate, diharus melakukan analisis setiap langkah-langkah besar dalam suatu tujuan.
Menganalisa kebutuhan pembelajaran dan analisis pembelajaran dalam desain sistem pembelajaran merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam kegiatan desain pembelajaran, ketika menghadapi masalah tentang pembelajaran.
Proses desain sebuah pembelajaran dimulai dengan identifikasi masalah atau kebutuhan pembelajaran dan analisis pembelajaran. Kedua kegiatan merupakan rangkaian erat yang secara berurutan dan bersama-sama untuk dikerjakan sebelum pendesain merancang pembelajaran, sedang analisis pembelajaran bentuk penjabaran perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis.
I. Tujuan Pembelajaran
Menurut Robert F. Mager (1962) adalah mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh mahasiswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.
Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan.
Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.
Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri; (2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan penilaian.
Dick & Carey menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah untuk menentukan apa yang dapat dilakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
Komponen dan tahapan model Dick dan Carrey lebih kompleks jika dibandingkan dengan model pembelajaran yang lain seperti Henry Ellington (1984), dan Nana Syaodih Sukmadinata (2002). Mereka menyebutkan desain pembelajaran sebagai metode sistematis bukan pendekatan sitematis. Tahapan yang diguanakan yaitu perencanaan, pengembangan, evaluasi, dan management proses.
Model ini juga memungkinkan warga belajar menjadi aktif berinteraksi karena menetapkan strategi dan tipe pembelajaran yang berbasis lingkungan. Dengan bentuk pembelajaran yang berbasis lingkungan, yang disesuaikan dengan konteks dan setting lingkungan sekitar atau disebut juga sebagai situational approach oleh Canale dan Swain (1980) memungkinkan pembelajar bahasa (sebagaimana dinyatkan oleh Sadtono, 1987) dapat mengoptimalkan kompetensi komunikatif.
10 Langkah Desain Pembelajaran ala Dick and Carrey
- Mengidentifikasi tujuan umum pengajaran,
- Melaksanakan analisis pengajaran,
- Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa,
- Merumuskan tujuan performansi,
- Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan,
- Mengembangkan strategi pengajaran,
- Mengembangkan dan memilih material pengajaran,
- Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif,
- Merevisi bahan pembelajaran,
- Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar.
Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan tujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari.
Sehingga dapat disimpulkan, tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan tingkah laku mahasiswa untuk lebih baik serta dapat memudahkan para pengajar untuk menyusun bahan ajar. Sehingga dengan demikian dapat membantu pembelajaran di sekolah atau kampus berjalan dengan baik.
Tujuan pembelajaran bahasa inggris adalah agar mahasiswa dapat berkomunikasi secara lancar dan baik secara lisan maupun tertulis, sehingga mahasiswa dapat berinteraksi secara verbal maupun tertulis secara profesional.
Salah satu karakteristik lulusan STIKES BANTEN adalah mempunyai kemampuan mengkomunikasikan ide dan informasi kepada pihak lain dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kemampuan berkomunikasi yang memadai baik secara lisan ataupun tertulis dalam bahasa Inggris tidak dapat dikuasai oleh mahasiswa secara instant atau mendadak. Mahasiswa dituntut untuk berusaha keras dan berkelanjutan agar dapat mencapai tingkatan ‘mampu berkomunikasi’ secara lancar dalam bahasa Inggris baik dalam hal mendengarkan, berbicara, membaca maupun menulis. Usaha mahasiswa ini harus difasilitasi oleh sekolah atau kampus melalui proses pembelajaran yang berkualitas dan berorientasi pada kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Dengan demikian, apakah yang di maksud dengan berkomunikasi secara lancar dan baik secara lisan dan tertulis itu?
Komunikasi ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjeleasan, perasaan, pertanyaan dari orang ke orang lain atau dari kelompok ke kelompok. Komunikasi adalah proses interaksi antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang dan kelompok-kelompok di dalam suatu organisasi (Dadang Sulaeman dan Sunaryo. 1983).
Menurut Oten Stuisna (1983), Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional, Komunikasi adalah suatu proses transfer dari informasi dari satu pihak ke pihak yang lain. Maka komunikasi adalah suatu yang sangat pokok dalam setiap hubungan orang-orang, begitu pula dalam suatu organisasi terjadinya komunikasi tentunya ada tujuan yang ingin dicapai.
Menurut pendapat Maman Ukas (2001) mengemukakan tujuan komunikasi sebagai berikut :
1. Menentapkan dan menyebarkan maksud dari pada suatu usaha.
2. Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan.
3. Mengorganisasikan sumber-sumber daya manusia dan sumber daya lainnya seperti efektif dan efisien.
4. Memilih, mengembangkan, menilai anggota organisasi.
5. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan suatu iklim kerja di mana setiap orang mau memberikan kontribusi.
Communication is a process of transferring information from one entity to another. The field of communication focuses on how people use messages to generate meanings within and across various contexts, cultures, channels, and media. (Komunikasi adalah proses penyaluran informasi dari satu pihak ke pihak yang lain. Sehingga komunikasi akan berfokus pada bagaimana orang mengunakan pesan tersebut untuk dapat mengartikan bahwa pesan tersebut dapat diterima atau disampaikan melalui suatu konteks pembicaraan, dalam kebudayaan maupun media). (Association for Communication Administration.August 1995).
Mengapa komunikasi itu penting?
Oral communication has long been our main method for communicating with one
another. It is estimated that 75% of a person’s day is spent communicating in some way.
A majority of your communication time may be spent speaking and listening, while a
minority of that time is spent reading and writing. These communication actions reflect
skills which foster personal, academic, and professional success. (Morreale, S.P., Osborn, M.M., & Pearson, J.C. (January, 2000) Why communication is important)
Komunikasi secara verbal telah lama dipakai untuk suatu metode berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Diperkirakan sekitar 75% dari kehidupan seseorang dalam sehari berkomunikasi secara verbal.
Hampir semua orang berkomunikasi secara oral dan mendengar, sementara tidak banyak orang yang berkomuniaksi dengan membaca atau menulis. Jadi tindakan komunikasi yang sukses adalah refleksi yang dipakai seseorang yang digunakan untuk pribadi, akademik, dan secara profesional.
Menurut Sumartono (2010), Komunikasi merupakan kekuatan yang mengantarkan siapa saja pada kesuksesan. Tetapi mengapa kesadaran kita memahami rahasia kekuatan komunikasi begitu kecil. Acapkali kita menganggap bahwa komunikasi hanya sekedar cuap-cuap, menyampaikan pesan, atau sekedar mendengar.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi itu penting jika penyampaian pesan informasi dari pembicara akan dapat diterima oleh penerima dilakukan secara baik dan benar. Ada beberapa kesimpulan dari hal diatas:
a. Dapat menerima masukan dari individu lain, artinya setiap masukan dari individu lain harus dapat diterima secara terbuka dan tenang. Meskipun terkadang masukan tersebut sangat menyakitkan, atau kurang enak, namun masukan tersebut harus diterima.
b. Mampu memahami secara baik setiap masukan atau pesan yang diterima.
c. Mampu menggabungkan informasi atau pesan dengan pengetahuan, kemampuan dan pendapat pribadi.
Setelah mengetahui semua ini, bagaimanakah komunikasi itu dapat dilakukan?’
Menurut Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of Communication, mendeskripsikan komunikasi sebagai proses linear karena tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel). Hasilnya adalah konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication model). Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci: sumber (source), pesan (message) dan penerima (receiver). Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima. Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit terhadap partisipan-partisipan dalm proses komunikasi.
Sedangkan menurut Wilbur Schramm (1954) yang menekankan pada proses komunikasi dua arah diantara para komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tapatnya melalui pengambilan peran orang lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interkasional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan.
Menurut Barnlund pada tahun 1970 Model ini menggarisbawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus-menerus dalm sebuah episode komunikasi. Komunikasi bersifat transaksional adalah proses kooperatif: pengirim dan penerima sama-sama bertanggungjawab terhadap dampak dan efektivitas komunikasi yang terjadi. Model transaksional berasumsi bahwa saat kita terus-menerus mengirimkan dan menerima pesan, kita berurusan baik dengan elemen verbal dan nonverbal. Dengan kata lain, peserta komunikasi (komunikator) melalukan proses negosiasi makna.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.
II. Ketrampilan Generik
Ketrampilan Generik: Mahasiswa mampu bekerjasama secara efektif dengan orang lain secara kooperatif baik didalam kelas maupun diluar kelas. Sehingga mempunyai respek pada orang lain dan mendapatkan respek dari orang lain.
Sehigga dapat dikatakan bahwa dalam ketrampilan generik mahasiswa mempunyai kemampuan dalam mendorong dan memotivasi serta meningkatkan spirit orang lain dalam mencapai hasil terbaik. Sesuatu yang terbaik adalah aset yang tinggi nilainya.
Selain itu ketrampilan generik juga mampu sebagai pemain tim dan bekerjasama secara efektif. Menjadi mahasiswa yang efektif adalah mahasiswa yang mampu bekerja sama dengan orang lain secara kooperatif di dalam tim kerjasamanya baik didalam kelas ataupun diluar kelas.
Apakah kemampuan dalam bekerjasama itu?
Menurut Anita Rahmawati dalam bukunya Pola Perilaku tipe A dan tipe B dalam bekerjasama (2002), Kemampuan kerja sama adalah kecakapan atau kesanggupan seseorang untuk bersikap positif dan mendukung suatu kegiatan yang dilakukan bersama oleh anggota organisasi yang memiliki keahlian komplementer yang secara bersama-sama melibatkan diri untuk mencapai tujuan bersama. Aspek-aspek kemampuan kerja sama adalah : Interaksi sosial, keterlibatan, kepercayaan, pengertian, dan tanggung jawab.
Dari sudut pandang sosiologis, kerjasama dibagi menjadi 3 bentuk (Soekanto, 1986: 60-63) yaitu: (a) bargaining yaitu kerjasama antara orang per orang dan atau antarkelompok untuk mencapai tujuan tertentu dengan suatu perjanjian saling menukar barang, jasa, kekuasaan, atau jabatan tertentu, (b) cooptationyaitu kerjasama dengan cara rela menerima unsur-unsur baru dari pihak lain dalam organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan stabilitas organisasi, dan (c) coalition yaitu kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Di antara oganisasi yang berkoalisi memiliki batas-batas tertentu dalam kerjasama sehingga jati diri dari masing-masing organisasi yang berkoalisi masih ada.
Kerjasama (collaboration) dalam pandangan Stewart merupakan bagian dari kecakapan ”manajemen baru” yang belum nampak pada manajemen tradisional. Dalam manajemen tradisional terdapat tujuh kecakapan/ proses kegiatan manajerial yaitu perencanaan (planning), komunikasi (communicating), koordinasi (coordinating), memotivasi (motivating), pengendalian (controlling), mengarahkan (directing), dan memimpin (leading).
(Analytic Review, Journal of Applied Psychology, 87, (4), 797-807).
Bagaimana kerjasama itu dapat dilakukan?
Menurut dalam pandangan Stewart kerjasama dapat dilakukan dengan mempunyai bagian-bagian dari kecakapan ”manajemen baru” yaitu perencanaan (planning), komunikasi (communicating), koordinasi (coordinating), motivasi (motivation), pengendalian (controlling, mengarahkan (directing) dan memimpin (leading).
Menurut Bischof, L.J. 1970 dalam bukunya Interpreting Personality Theories kerjasama dapat dilakukan dengan beberapa faktor yaitu:
1. Adanya pembagian kerja (division of work). Pembagian kerja atau penempatan karyawan, secara normatif harus menggunakan prinsip the right man on the right place . Paling tidak ada dua dasar berpikir mengenai hal ini, yaitu (a) pekerjaan dalam organisasi volume dan/atau ragamnya cukup banyak sehingga tidak bisa ditangani oleh satu atau dua orang saja, dan (b) setiap orang memiliki minat, kecakapan, keahlian atau spesialisasi tertentu.
2. Adanya pembagian wewenang dan tanggung jawab (authority and responsibility). Dalam tugas pekerjaannya, setiap staf dilengkapi oleh wewenang dalam melakukan pekerjaan tertentu dan setiap wewenang itu melekat suatu pertanggungjawaban. Agar staf dapat menjalankan kewenangan dan memenuhi tanggungjawabnya, perlu diberi peluang untuk saling bekerjasama antar sesama staf dan antara dirinya dengan manajer terkait.
3. Adanya kesatuan perintah (unity of command) dan pengarahan (unity of direction). Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan yang baik akan memperhatikan prinsip kesatuan perintah pada bidangnya sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan juga harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab. Perintah yang datang dari manajer bagian yang lain kepada seorang karyawan kadankala bisa mengacaukan kejelasan wewenang, tanggung jawab, dan pembagian kerja. Untuk memastikan adanya kesatuan perintah, perlu dijalin komunikasi dan kerjasama. Dalam pelaksanaan kerja, bisa saja terjadi adanya dua perintah yang bertentangan. Untuk keserasian perintah, sekali lagi diperlukan komunikasi, konsensus, dan kerjasama.
4. Adanya ketertiban (order) organisasi. Ketertiban dalam organisasi dapat terlaksana dengan aturan yang ketat atau dapat pula karena telah terciptanya budaya kerja yang sangat kuat. Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi dari masing-masing anggota organisasi.
5. Adanya semangat kesatuan (semangat korp). Setiap staf harus memiliki rasa kesatuan, atau senasib sepenanggungan sehingga menimbulkan semangat kerjasama yang baik. Semangat kesatuan akan lahir apabila setiap karyawan mempunyai kesadaran bahwa setiap karyawan sangat berarti bagi karyawan lain. Setiap bagian dibutuhkan oleh bagian lainnya. Manajer yang memiliki kepemimpinan akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp), sedangkan manajer yang suka memaksakan kehendak dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan friction de corp (perpecahan dalam korp).
Michael Maginn dalam bukunya Teams Works 24 Poin Penting Seputar Kesuksesan Dalam Kerjasama mengatakan bahwa kerjasama dapat dilakukan jika team work itu dapat:
Menentukan tujuan bersama secara jelas, Memperjelas tanggung jawab anggota tim, menghindari masalah yg bisa diantisipasi, ekerjasama mewujudkan gagasan, mengambil keputusan secara solid, menemukan konsensus
- Mengelola perbedaan, saling percaya, mengadakan rapat dengan baik, emimpin tanpa mendominasi.
Mengapa kerjasama itu dilakukan?
Meyer JP., Allen NJ., dan Gellatly LR. (1990) mengatakan kerjasama perlu dilakukan untuk pencapaian tujuan yang di kehendaki dalam suatu organisasi.
Herscovitch L. dan Meyer, JP. 2002. Untuk mewujudkannya kerjasama yang baik perlu dilakukan dalam melaksanakan program pengembangan suatu organisasi yang konsisten dengan prinsip yang telah disepakati, dibutuhkan komitmen dari pemegang kebijakan melalui program-program pengembangan team yang konkret.
Christian Siboro dalam bukunya Marketing Communication (2009) mengatakan bahwa kerjasama perlu diwujudkan jika adanya acuan tanggungjawab untuk mencapai tujuan organisasi (responsibility reference, dan bukan acuan tugas-tugas rinci (task reference) karena tugas-tugas secara operasional harian dapat berkembang secara kreatif, namun tetap untuk mengemban tanggungjawab mencapai tujuan akhir organisasi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dasar utama dalam kerja sama ini adalah keahlian, di mana masing-masing orang yang memiliki keahlian berbeda, bekerja bersama menjadi satu kelompok/tim dalam menyeleseaikan sebuah pekerjaan dan dapat menghargai pendapat orang lain serta mempunyai tanggung jawab yang kuat serta komitmen yang tinggi dalam mencapai tujuan akhir dari suatu kerjasama.
III. Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu berinteraksi dan berkomunikasi secara verbal dan tertulis secara profesional.
IV. Kompetensi Dasar
Merespon makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi resmi dan tak resmi dan berlanjut (sustained) dengan menggunakan ragam bahasa lisan dan tertulis secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur menyampaikan pendapat, menerima pendapat, menyatakan puas dan menyatakan tidak puas.
V. Indikator dari Komunikasi
V. 1. Komunikasi Lisan
Menurut Sumartono(2010), indikator-indikator dari komunikasi secara lisan adalah
a. Kesiapan
Pesan atau informasi, cara penyampaian, dan waktu penyampaian dan siapa yang menerimanya harus disiapkan secara matang.
- Kesungguhan
Artinya apapun wujud dari pesan atau informasi tetap harus disampaikan secara sungguh-sungguh atau serius. Hal ini dapat dilihat dan dirasakan oleh komunikan dari bahasa verbal.
- Kepercayaan Diri
Artinya jika individu mempunyai rasa percaya diri, maka hal ini akan sangat berpengaruh pada cara penyampaian dan bagi penerimanya.
- Ketenangan
Artinya sebaik atau sejelek apapun pesan atau informasi yang disampaikan, individu tersebut harus bersikap tenang, tidak emosi maupun memancing emosi si penerima, karena dengan adanya ketenangan maka pesan atau informasi akan lebih jelas, baik dan lancar
.
Menurut Dr. Adriana S. Ginanjar, M.S, (2007), indikator-indikator dari komunikasi verbal adalah
1. Sabar, jangan egois dan kontrol emosional.kesabaran memang ada batasnya dan batasnya adalah sampai akhir hembusan nafas kita.
2. Jadilah pendengar yang baik,perhatikan dan tanggapi dengan baik setiap orang lain berkomunikasi dengan kita.
3. Jangan pernah memotong pembicaraan orang lain karena itu tata krama dalam berkomunikasi.
4. Jangan terlalu banyak omong karena orang bisa bosan dengerinnya.(banyak mendengar lebih baik daripada banyak berbicara).
5. Puji setiap orang yang berkomunikasi dengan kita karena setiap orang menginginkanya,percaya diri akan didapatkanya dan nama baik akan kita dapatkan.
6. Fahami apa yang sedang dibahas dalam berkomunikasi tersebut.jangan jadi lola (loading lama)alias nggak nyambung.
7. Sikap ciri khas indonesia menghargai orang dan keramahtamahan (senyum) akan mengawali komunikasi yang baik.
Menurut Rubin (1975) mengidentifikasi indikator komunikasi verbal atau lisan:
1. Mau menebak dan menjadi penebak yang baik
2. Mempunyai dorongan kuat untuk berkomunikasi
3. Tidak melindungi egonya (uninhibited)
4. Memperhatikan bentuk
5. Mencari kesempatan untuk mempraktikan bahasa yang sedang dipelajari.
6. Memonitor bahasanya sendiri dan bahasa orang lain
7. Memperhatikan makna
Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi verbal dapat dilakukan jika mahasiswa mempunyai persepsi (pendapat), mempunyai afeksi (senang atau tidak senang, dalam kata lain mempunyai kebanggaan dan mempunyai konasi atau kecenderungan untuk bertindak. Selain itu mahasiswa diharapkan mempunyai rasa percaya diri yang kuat, dapat memahami pembicaraan antara kedua pihak, sabar dalam arti dapat mengontrol emosinya, serta menjadi pendengar yang baik dan tanggap terhadap situasi atau dapat disebutkan dapat mengontrol situasi yang ada.
V.2. Komunikasi Tertulis
Komunikasi tertulis adalah proses penyampaian pesan atau informasi yang berkaitan dengan kemampuan seseorang atau mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, ide, opini melalui tulisan agar dapat diterima atau dimengerti sehingga komunikasi tersebut dapat berjalan dengan lancar.
Menurut Bovee dan Thill (1995:104) dikatakan bahwa salah satu indikator sebagai penguasaan akan komunikasi tertulis adalah ” spelling and usage”, yang menjadi pertimbangan penting seseorang dalam melakukan komunikasi bahasa tertulis, selain satu faktor lain yaitu “thinking” (berpikir) sebagai pusat dari seluruh pertimbangan orang ketika akan melakukan komunikasi bahasa tertulis.
Harlen (dalam Aidah, 2007:13) menyatakan komunikasi tertulis meliputi kemampuan mendapatkan informasi dari sumber tulisan dan menyajikan dalam bentuk cerita, grafik atau tabel.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi tertulis adalah kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dalam mengungkapkan program, temuan, cerita, grafik atau tabel. Dengan demikian berkomunikasi tertulis memegang peranan penting dalam proses penyusunan pikiran, menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lainnya sehingga dapat menjadi satu kesatuan yang penuh yang dimiliki siswa.
VI. Analisis Pembelajaran dan Konteks
VI. 1. Analisis Pembelajaran
Kesenjangan dalam pembelajaran perlu dianalis. Maka dari itu analisis pembelajaran adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Bila kesenjangan tersebut dan menimbulkan efek yang besar, maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey : 1990,15 - 27 ),
Sehingga analisis pembelajaran bahasa inggris pada 4 X 45 menit dalam konteks presentasi dengan thema ‘Masalah bom yang terjadi di Indonesia’ adalah untuk mencapai tujuan agar siswa dapat berpresentasi dengan baik dan benar, menggunakan percakapan transaksional dan interpersonal serta menggunakan ragam bahasa lisan dan tertulis.
IV. 2. Konteks
Konteks presentasi adalah merespon makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi dan berlanjut (sustained) dengan menggunakan ragam bahasa lisan dan tertulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat yang melibatkan tindak tutur misalnya meminta temannya untuk menjelaskan kembali presentasi yang telah dilakukan, memberi dan meminta opini serta meminta dan memberi fakta dalam konteks masalah bom yang ada di Indonesia.
Sehingga komunikasi yang dipakai untuk konteks ini adalah komunikasi kelompok yang menurut Tubbs dan Moss diartikan sebagai proses pertukaran verbal dan nonverbal antara tiga orang atau lebih anggota kelompok yang bertujuan untuk saling mempengaruhi (Tubbs dan Moss, 2000, p. 17).
Analisis Pembelajaran dan Konteks
|
Aktifitas Dosen
|
Aktifitas Mahasiswa
|
Data dan konteks
|
Face awal atau Engagement
|
- Membuat pembelajaran tentang presentasi masalah bom yang ada di Indonesia
- Meningkatkan keingin tahuan mahasiswa tentang masalah bom yang ada di Indonesia dengan cara memberi data-data yang akurat yang berasal dari sumber yang dapat dipercaya, seperti dari koran kompas, dan lainnya.
- Mendapatkan respon yang membangun dari apa yang diketahui mahasiswa tentang konsep yang dipelajari.
|
- Mahasiswa mengajukan pertanyaan seperti ‘mengapa pemboman di Indonesia ini dapat terjadi?”
- Bagaimana saya dapat menemukan sesuatu tentang ini?
- Menunjukkan ketertarikan pada topik yang dipelajari. Yaitu masalah bom yang ada di Indonesia.
|
- Dosen menjelaskan bagaimana berpresentasi memakai konteks komunikasi antar mahasiswa itu sendiri dan antar siswa dan dosen dan antar kelompok.
- Mahasiswa dapat menunjukkan ketertarikannya dengan cara bertanya kepada dosen, dan mencoba mencari sumber data yang diperlukan berupa klipping, guntingan koran dan berita dari TV dan radio.
|
Face Exploration
|
- Menganjurkan mahasiswa untuk bekerjasama tanpa petunjuk langsung dari dosen
- Mengobservasi dan mendengarkan mahasiswa selagi mereka berinteraksi
- Memberi pertanyaan arahan mengenai penyelidikan terhadap mahasiswa ketika diperlukan.
- Menjadi konsultan terhadap mahasiswa.
|
- Berpikir bebas tetapi dibatasi sesuai dengan aktivitasnya.
- Melakukan praktek berbicara didepan teman sekelompok.
- Diskusi kelompok.
- Telaah sumber atau literatur.
- Mencatat yang diperlukan dalam presentasi.
- Menyimpulkan apa yang didapat atau temuannya.
|
- Mahasiswa dapat melakukan pencarian data melalui koran, majalah, internet.
- Mahasiswa dapat mengemukankan pendapatnya didepan teman-temannya setelah mendapatkan hasilnya berupa klipping dari koran, majalah, TV dan internet.
|
Face explanation
|
- Menganjurkan mahasiswa untuk menjelaskan konsep dan definisi menurut kata-kata mereka sendiri
- Memberikan pertanyaan arahan sebagai petunjuk untuk mahasiswa dan klarifikasi dari mahasiswa
- Menggunakan pengalaman mahasiswa yang sebelumnya sebagai dasar untuk menerapkan dan menjelaskan konsep.
|
- Menggunakan catatan sebagai hasil observasi untuk menjelaskan konsep.
- Mendengarkan penjelasan dari kelompok lain atau teman satu kelompok.
- Memberi pertanyaan terhadap penjelasan mahasiswa lain.
- Mendengarkan dan mencoba memahami penjelasan dari dosen
|
- Mahasiswa mendapatkan data dan topik yang akan dibahas dan dipresentasikan di depan kelas, setelah mengetahui dan memahami semua hasil yang diobservasikan.
|
Face Elaboration
|
- Mengharapkan mahasiswa untuk menggunakan istilah umum, definisi dan memberikan penjelasan.
- Menganjurkan mahasiswa menggunakan konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
- Mengarahkan mahasiswa pada data yang ada dan petunjuk, serta menanyakan, apa yang baru mereka ketahui
|
- Menggunakan istilah baru, definisi, penjelasan dan ketrampilan yang baru tetapi dalam situasi yang sama.
- Menggunakan informasi sebelumnya untuk bertanya mengemukakan solusi, dan membuat keputusan.
- Menggambarkan kesimpulan yang masuk akal dari petunjuk.
- Mengingat kembali dari pengamatan yang ada.
|
- Mahasiswa dapat memilah dari topik tersebut dan membuat definisi serta dapat mengidentifikasi masalahnya dan membuat solusi apa yang dikerjakan.
|
Face Evaluation
|
- Mengobservasi mahasiswa selama mereka menggunakan konsep baru dan ketrampilan baru.
- Menilai pengetahuan ketrampilan mahasiswa melihat bukti bahwa mahasiswa mempunyai perubahan pemikiran
- Mengarahkan mahasiswa untuk menilai pekerjaannya sendiri.
- Memberi pertanyaan seperti apa yang kamu ketahui tentang...? bagaimana kamu menjelaskan tentang....?
|
- Menjawab pertanyaan dengan menggunakan observasi, fakta yang diperoleh, dan petunjuk-petunjuk sebelumnya.
- Mendemonstrasikan pengertian dan pengetahuan dari konsep dan ketrampilan.
- Mengevaluasi perkembangan dan pengetahuan diri sendiri.
|
- Mahasiswa dapat menggunakan fakta, dan petunjuk-petunjuk untuk melakukan penulisan presentasi. Dan mahasiswa dapat berpresentasi.
|
V. 2. Langkah-langkah
Langkah-Langkah
|
Indikator
|
Assessment
|
Kegiatan
|
Metode Yang digunakan
|
Materi
|
Media
|
|
Sub Ordinate 1:
Siswa dapat menentukan topik pembicaraan yang dikuasainya baik secara lisan maupun tertulis sehingga siswa dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar.
|
1. Mampu mengidentifikasikan masalah.
2. Siswa mempunyai:
- Kesiapan
- Afeksi (mempunyai ketenangan dalam presentasi
- Percaya diri yang kuat
- Kesungguhan
|
1. Siswa dapat berkomunikasi secara lisan.
2. Rubrik
|
Siswa mampu menulis dalam presentasi dan mengungkapkannya dalam bentuk presentasi
|
Ceramah
|
Pengertian suatu masalah.
Masalah adalah kesenjangan antara kondisi yang ada dan harapan yang ingin dicapai.
Contoh: kesenjangan sosial dalam kehidupan. Sehingga memicu adanya bom di Indonesia.
|
In Focus, Komputer, koran, berita dari TV.
|
|
Step 1:
Siswa dapat menjelaskan topik pembicaraan nya secara lisan dan tertulis
|
1. Siswa mampu mendeskripsikan apa yang tersirat dalam pikirannya tentang topik yang dibicarakan secara lisan dan tertulis secara lancar.
2. Harapan yang di inginkan oleh negara indonesia: Siswa mampu menyampaikan tindak tutur pendapat, menerima pendapat dan menyatakan puas atau tidak puas.
|
Siswa mampu melakukan presentasi dengan menggunakan topik yang dibicarakan
|
Siswa dapat berpresentasi dengan memilih topik yang dibicarakan
|
Presentasi secara aktif
|
Memilih news items atau berita yang sedang marak; misalnya bom yang terjadi di daerah Hutan Kayu
|
In Focus, Komputer, koran, berita dari TV.
|
|
iStep 2: Siswa mampu menyebutkan dan mendeskripsikan tentang berita bom yang ada di koran, di TV
|
1. Siswa mampu mengguna
2. kan tatabahasa atau grammar dengan topik pembicaraan tentang berita bom.
3. Siswa dapat mengguna
4. kan dalam menyatakan ekspressi tentang bom di Indonesia
|
Topik yang dibicarakan sudah terarah dengan grammar dan topik yang diarahkan
|
Mendiskusikan dalam kelompok apa saja yang perlu ditampilkan dalam presentasi dan bagaimana bentuk presentasi tersebut.
|
Diskusi dan
mencari kliping tentang bom yang sedang marak di Indonesia. Masing-masing mahasiswa membaha kliping dari koran, majalah atau internet untuk di buat presentasi. Hal yang untama harus membuat artikel berdasarkan kliping tersebut sebelum membuat slide power point.
|
Siswa harus mendapatkan kliping atau bahan yang dicari, dengan demikian akan mendapatkan dan memulai sebuah diskusi
|
Koran, internet, majalah
|
|
Step 3: siswa dapat mengalokasikan bahan-bahan yang akan di presentasikan.
|
Mengumpulkan bahan-bahan atau materi yang akan dipresentasikan dan disusun dalam cerita.
|
|
Membuat cerita atau deskripsi tentang masalah bom yang ada di Indonesia dengan format makalah
|
Makalah yang disampaikan berupa:
-abstract
- pendahuluan
- Latar belakang
- Cara bekerja bom
- Cara menentukan target
|
Masalah bom yang terjadi di Indonesia.
|
Paper, pencil or pen, computer, printer, internet.
|
|
Step 3. 1:
Siswa menulis tentang pembuatan bom, dan mengetahui target dan mengetahui cara bekerjanya bom
|
Berita tentang cara pembuatan bom dan targetnya
.
|
Penulisan diambil dari berita di TV dan koran
|
Mendiskusikan dan menuliskan apa yang akan di presentasikan.
|
Diskusi
|
News items
|
Internet, TV, Koran dan majalah
|
|
Siswa bercerita bagaimana cara pembuatan makalah pembuatan bom dan lainnya
|
Bahasa yang digunakan harus jelas, singkat, dan sistematikal
|
|
Penulisan dalam memilih berita masalah bom yang ada di Indonesia
|
Menuliskan masalah yang terdapat didalam makalah tersebut.
|
Masalah bom yang ada di Indonesia
|
Pencil and paper
|
|
4. Cara membuat makalah tentang bom
|
Abstract
Pendahuluan
Latar belakang
Cara bekerja bom
Cara menentukan target
|
|
Penulisan makalah perindividu untuk dipresentasikan
|
Slide dan makalah
|
Masalah bom yang ada di Indonesia
|
Slide and computer
|
|
5. Siswa membuat presentasi
|
Isi presentasi
|
|
Slide presentasi
|
Penulisan slide
|
Masalah bom yang ada di Indonesia
|
Slide, computer, makalah
|
|
6. Siswa dapat berpresentasi
|
Berkomunikasi secara lisan dan tertulis
|
Pengayaan
|
Presentasi dimuka umum
|
Cara berpresentasi
|
Masalah bom yang ada di Indonesia
|
Computer, USB, Slide, paper,pencil or pen
|
| | | | | | | | | | | | |
VII. Daftar Pustaka
Oten Stuisna, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional, (Bandung : Angkasa, 1983) h. 190.
teori KAP (knowledge, attitude, practice), Sarwono (1993)
Marsetio Donosepoetro, Manajemen dalam Pengertian dan Pendidikan Berpikir, (Surabaya : 1982) h. 35.
Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung : Ossa Promo, 1999) h. 314-315.
Association for Communication Administration. (August 1995). Summer Conference on Defining the Field of Communication. Annandale, VA.U.S. Department of Education. (2000).
Classification of Instructional Programs, 2000. Washington DC. (p.2)
Morreale, S.P., Osborn, M.M., & Pearson, J.C. (January, 2000) Why communication is important: A rationale for the centrality of the study of communication. Journal of the Association for Communication Administration, 29 (1), 1-25.
McCloskey, D. (1993). The neglected economics of talk. Planning for Higher Education, 22, pp. 11-16.
Friedrich, G.W. (1991). Essentials of speech communication. In Morreale S., Janusik, L., Randall, M., & Vogl, M. (Eds.), Communication Programs: Rationale and Review Kit. (1997). Annandale, VA: Speech Communication Association, p. 125.
Applegate, J. & Morreale, S. (May, 2001). Creating engaged disciplines. In Hendley, V. (Ed.) AAHE Bulletin, 53 (9). Washington, DC: American Association for Higher Education.
Claude Shannon dan Warren Weaver (1949) The Mathematical of Communication
Dr. Adriana S. Ginanjar, M.S. Psikologi Komunikasi (2008) hal. 43
Uwes A. Chaeruman, M.Pd. Design Pembelajaran; Analisa Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran, Pustekkom, Kemdiknas. 2010
Sanjaya, Wina. (2006). Pembelajaran dalam implementasi kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Sudjana, Nana. (1995). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Celce- Murcia, M,. Dornyei., Z., dan Thurell., S., 1995.
Communicative Competence. A Pedagogically Motivated Model With Content Specification. Isuesses in Applied Linguistics. 6. 5-35. Cohen. D.A., 1994. Assessing Language Ability in the Classroom. 2nd edition. Massachussets.
Heinle & Heinle Publisher. Gronlund, E.N., 2006. Assessment of Student Achievement.8th Edition. USA. Pearson Education Inc.
Menteri Pendidikan Nasional. 2002. Keputusan Mentri Pendidikan Nasional Republic Indonesia Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti pendidikan Tinggi. Jakarta. Depdiknas. Menteri Pendidikan Nasional. 2006.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. Depdiknas Sukhriani, Yeni. 2005. Study on Language Testing.
Unpublished paper. Dipresentasikan pada Diklat Calon Widyaiswara di PPPG Bahasa, Jakarta. PPPG Bahasa Usman. Uzer,. Moh. 2001.
Menjadi Guru Professional. Bandung. PT Remaja Rosdakarya
Analytic Review, Journal of Applied Psychology, 87, (4), 797-807.
Herscovitch L. dan Meyer, JP. 2002. Commitment to Organizational Change: Extension of a Three Component Model, Journal of Applied Psychology, (3), 479-487.