Cerita Guru di Tapal Batas
Oleh Ade Irwansyah
Film dokumentari dari milis kami yang ditulis oleh Ade
Irwansyah benar-benar membuktikan betapa guru itu diperlukan dan
diperlakukan.
APAKAH nasionalisme itu? Hans Kohn, dalam bukunya yang sudah jadi klasik Nasionalisme: Akar dan Sejarahnya (pertama
terbit 1955) mengatakan, nasionalisme adalah suatu paham yang
berpendapat bahwa kesetiaan individu harus diserahkan kepada negara
kebangsaan.
Defenisi itu menemukan ujiannya bila kita menengok film
dokumenter yang masuk nominasi Film Dokumenter Terbaik Festival Film
Indonesia 2011 ini, Cerita dari Tapal Batas. Di film ini kita
diajak menengok lebih dalam bagaimana rasanya hidup di daerah terluar
Indonesia, di pelosok Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia.
Kita melihat perjuangan seorang guru SD bernama Martini
yang sudah 8 tahun mengajar di desa Badat Baru, kecamatan Entikong,
Kalimantan Barat. Butuh 8 jam perjalanan melewati sungai bagi Martini
untuk sampai di sekolah tempatnya mengajar. Itu bila perjalanan normal.
Bila sungai sedang tak akrab padanya, ia harus melewati riam sungai
dengan menarik sampan bersama penumpang lain. Bayangkan menarik sampan
panjang di sungai yang lebih cocok jadi atraksi arung jeram. Tapi
begitulah keadaan yang harus dijalani Martini demi mengabdikan diri
mengajari murid-muridnya, mengingatkan kalau mereka masih tinggal di
wilayah negara yang bernama Indonesia, dengan tiang bendera di tengah
lapangan memasang bendera Indonesia selama 24 jam.
Di sekolah, Martini tak sekadar jadi guru di beberapa
kelas sekaligus. Ia juga jadi kepala sekolah, penjaga sekolah, sampai
pesuruh. Semua dilakukannya sendiri dibantu seorang tenaga honorer.
Dikatakannya, tak ada guru di sekolah itu yang bersedia bertahan lebih
lama darinya.
Dan, ah, memang siapa yang bisa tahan hidup menderita di
desa itu kecuali ia sosok super macam Martini. Bayangkan saja, setelah
perjalanan jauh 8-12 jam mengarungi sungai, ia harus tinggal di rumah
dinas yang bagi ukuran manapun rasanya tak layak dihuni manusia. Rumah
panggung dari kayu itu sudah reyot. Belum ada listrik masuk desa itu.
Dan tengok tempat buang hajat di rumah itu. Duh, Gusti...
Tapi Martini tak bergeming. Ia tetap mengajar dengan
keterbatasan yang ada. Ia tetap mengajar walau sekolahnya juga mulai
digerogoti rayap, rusak dimakan usia. Lantai kayu dan papan tulis di
kelas bolong-bolong. Tapi kita tengok pula ada tumpukan sak semen di
depan kelas. Tentu dalam benak kita muncul sedikit harap, “Oh, ternyata
ada perhatian dari pemerintah memperbaiki ruangan sekolah.” Nyatanya
bukan. “Semen-semen itu untuk membangun perpustakaan,” bilang Martini
pada kita.
Sungguh ironis. Alih-alih membuat rumah dinas yang lebih
nyaman bagi guru yang sudah mengabdi, pemerintah menganggarkan hingga
puluhan juta membangun perpustakaan. Yang lebih dipedulikan adalah
buku-buku yang jumlahnya tak seberapa (kita melihat tumpukan buku di
lantai). “Buat saya, itu seperti penghinaan,” kata Martini. Kita
mendengar kalimat itu sambil terasa nada kegeraman di dalamnya. Kita
melihatnya marah. Tapi di saat sama, kita melihat keteguhan. Walau
disia-siakan, tak diperhatikan, bahkan dihina, Martini tetap tak
bergeming untuk tetap mengajar.
Selepas Martini, kita bertemu Kusnadi. Ia mantri
kesehatan yang tugasnya menjelajahi dusun-dusun terluar di perbatasan
Indonesia, mengobati penduduk yang sakit. Selain pendidikan, kesehatan
juga masalah genting di dusun-dusun terluar negeri kita. Untuk pergi
berobat ke kecamatan, butuh belasan jam perjalanan melewati hutan dan
sungai. Belum lagi biaya yang tak sedikit. Menyewa perahu dan
mengongkosi bensin serta makan, ongkos yang dikeluarkan bisa sampai Rp 2
juta. Bagi penduduk yang miskin, sangat tak masuk akal bila hendak ke
puskesmas di kecamatan karena demam bila harus bayar ongkos Rp 2 juta.
Di sini peran Kusnadi sangat penting. Memanggul
obat-obatan, ia datang dari satu dusun ke dusun mengobati penduduk yang
sakit. Mulai dari darah tinggi, demam, hingga malaria. Seperti pada
Martini, ia juga tak mengharapkan pamrih. Melihat penduduk sehat saja,
baginya sudah senang.
Sejatinya, peran Kusnadi tak sekadar mengobati penduduk
yang sakit. Keberadaannya juga merupakan pesan bagi penduduk di
dusun-dusun terluar tersebut, yang jauh dari kota kecamatan, kalau masih
ada yang perhatian pada kesehatan mereka. Bayangkan bila orang semacam
Kusnadi suatu kali sakit, atau lebih parah lagi, ia tak mau melanjutkan
pekerjaannya lantaran medan yang harus dilaluinya demikian.
Ah, medan yang berat. Bukankah ini inti persoalannya. Cerita dari Tapal Batas kemudian
ditarik pada persoalan makro: ketiadaan infrastruktur membuat
masyarakat di dusun-dusun terluar ini hidup terbelakang. Yang dibutuhkan
penduduk sebetulnya sederhana saja. Mereka ingin ada jalan yang enak
untuk dilalui menuju desa mereka.
Tapi tengok yang terjadi. Lebih mudah jalan ke negeri
jiran ketimbang jalan ke negeri sendiri. Alhasil, secara ekonomi
penduduk tak bergantung pada tanah airnya, tapi pada Malaysia. Setiap
hasil tani dan ladang dijual ke Malaysia. Akibatnya, mereka lebih kenal
ringgit daripada rupiah.
Begitu pun soal pendidikan. Kita melihat seorang bertutur
saudaranya kiti memilih menyekolahkan putranya ke Malaysia ketimbang di
negeri sendiri. Dan seperti dikatakannya pula, setahun sekolah di
Malaysia perkembangan sang anak maju pesat.
Pada titik ini kita merasa nasionalisme kita diuji.
Selama ini, kita berteriak dengan gaduh karena geram berbagai kesenian
maupun budaya kita diklaim Malaysia. Melihat film dokumenter ini, apa
yang kita ributkan setiap kali geram pada Malaysia terasa konyol. Di
tapal batas negeri kita, nyatanya Malaysia lebih memberi penghidupan
pada penduduk Indonesia. Kita beberapa kali mendengar penduduk bersaksi
lebih kenal Malaysia ketimbang Indonesia.
Apa defenisi Kohn tentang nasionalisme salah? Tidak,
bukan defenisinya yang salah. Namun, seperti disyaratkan Kohn ada muasal
dari sikap nasionalistis seseorang. Unsur yang terpenting nasionalisme,
kata Kohn, adalah kemauan hidup bersama yang nyata.
Kohn melanjutkan:
“Kemauan inilah yang kita namakan nasionalisme, yakni
suatu paham yang memberi ilham kepada sebagian terbesar penduduk dan
yang mewajibkan dirinya untuk mengilhami segenap anggota-anggotanya.
Nasionalisme menyatakan bahwa negara kebangsaan adalah cita dan
satu-satunya bentuk sah dari organisasi politik dan bahwa bangsa adalah
sumber daripada semua tenaga kebudayaan kreatif dan kesejahteraan
ekonomi.”
Kita tahu, nasionalisme Indonesia, dan begtu pula
Malaysia, lahir dari ciptaan kolonialisme. Sebuah periode—yang mengutip
Daniel Dhakidae di Prisma (Oktober 2009)—“merdeka berdarah”
telah melahirkan Indonesia, sedang “merdeka hadiah” telah melahirkan
Malaysia. Kolonialisme telah membagi pulau Kalimantan (atawa Borneo)
yang satu jadi milik dua negara (tiga, bila diikutkan dengan Brunei
Darussalam). Masyarakat yang berasal dari suku yang sama, punya nenek
moyang serta tadisi dan kebudayaan dari leluhur yang sama, mendadak
dipisahkan batas negara. Kesetiaan nasionalisme mereka dibelokkan pada
negara yang berlainan, satu ke Indonesia, satu lagi ke Malaysia.
Dari sini kita jadi ingat pada tesis Benedict Anderson di buku lain tentang nasionalisme yang juga sudah jadi klasik, Imagined Communities: Refelections on the Origins and Spread of Nationalism (pertama terbit 1983). Dikatakan Anderson, bangsa atawa nasionalisme berasal dari komunitas yang dibayangkan (imagined communities).
Lebih jauh ia mengatakan, bangsa itu dibayangkan karena anggotanya
tidak akan pernah mengenal satu sama lain, tetapi dalam benak tiap
anggota itu, hidup suatu bayangan mengenai keterkaitan antara mereka.
Saya bertanya-tanya, bila tak ada bayangan maupun kehadiran negeri ini
di daerah terluar kita, masihkah tesis bangsa sebagai “komunitas yang
dibayangkan” valid? Apakah ada Indonesia dalam benak penduduk di
dusun-dusun terluar kita, bila mereka nyatanya lebih manggantungkan
hidupnya pada negeri jiran?
Dari uraian lebih jauh Dhaniel Dhakidae di Prisma (Oktober
2009) kita diingatkan Malaysia dirindukan oleh rakyat biasa yang tak
punya pekerjaan, yang tak diakui, dan malah diperas di dalam negerinya
sendiri. Malaysia tetap jadi magnit bagi rakyat kecil. Walaupun, dalam
kasus penyiksaan pada pekerja kita di Malaysia, terlihat kenyataan yang
manis telah jadi cuka.
Tapi, di masyarakat atas, terutama bagi yang tinggal di
kota besar, macam Jakarta, dengan akses pada pendidikan dan kesehatan
lebih terjamin, Malaysia dibenci hingga ke ubun-ubun. Iklan pariwisata
Malaysia yang memerlihatkan batik dan reog sekelebatan pun menimbulkan
kegeraman di Facebook dan Twitter. Pangkal soal kegeraman itu ditengarai
bukan lantaran orang kota lebih nasionalis. Dalam kegeraman itu ada
terbersit rasa iri karena Malaysia ekonominya lebih makmur, penduduknya
lebih diurus. Malaysia, bagi masyarakat lapisan atas, adalah pesan
tentang kegagalan bangsa ini menghidupi anak-anaknya sendiri. Ditulis
Dhakidae, Malaysia dengan demikian tampil sebagai alter ego,
menjadi cermin yang membuka bopeng bangsa ini. Dan sudah jadi nasib
cermin, bila buruk rupa, cermin yang dibelah. Kita marah pada Malaysia.
Oleh karena itu, film ini mengingatkan kita tak usahlah
menghancurkan cermin, mencela Malaysia. Persoalannya ada pada negeri ini
yang salah urus. Film ini memerlihatkan, bukannya membangun jalan,
membelah bukit dan hutan membuka jalur ke dusun-dusun terluar, atau
sekadar memperbaiki nasib guru, negara malah membangun perpustakaan yang
belum diperlukan.
Tengok pula nasib seorang perempuan Singkawang bernama Ella di film ini. Hidup miskin membawanya jai korban trafficking.
Seorang saudaranya, menjanjikan “pekerjaan” sebagai istri orang Taiwan.
Ia diiming-imingi hidup enak. Ella beruntung masih bisa bercerita pada
kita. Nasib kawan-kawannya, yang dijual bersamanya, tak ketahuan
nasibnya. Bagi Ella, seperti juga bagi penduduk dusun-dusun di
perbatasan Malaysia, negeri tempat ia tinggal tak bisa diharapkan
menjanjikan penghidupan lebih baik. Menikahi orang Taiwan malah jadi
jalan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Di awal film karya Wisnu Adi ini kita mendengar Darius
Sinathrya berujar, “Sebuah kisah harus dikatakan... sebuah kisah harus
didengarkan... sebuah cerita harus dituliskan.” Memang harus ada yang
mengatakan dan memerlihatkan pada kita semua—terutama orang kota yang
tinggal di sisi paling dalam, paling dekat dengan pusat kekuasaan sebuah
negeri bernama Indonesia—sebuah potret saudara kita di sisi terluar
sana.
Pada titik ini, film Cerita dari Tapal Batas menemukan signifikansinya.***
PRODUCTION DETAILS AND CREDIT LIST
Title : CERITA DARI TAPAL BATAS
Color, Digital, Stereo
Running time : 87 mins
CREW
Production Companies : Keana Production & Communication
Publicist : Andi Apriatna
Hubert Aria Ximenes Famosando
Narrator : Darius Sinathrya
Sound Designer : Sutan Siagian
Music : Thoersi Argeswara
Theme Song : “Menjadi Indonesia” by Efek Rumah Kaca
Editor : Waluyo Ichwandiardono
Director of Photography : Anggi Frisca
Creative Supervision : Yudi Datau
Line Producer : Bernard Leopold Tanya
Executive Producer : Marcella Zalianty
Producer : Ichwan Persada
Director : Wisnu Adi
Telah beredar dalam format DVD (premium)
Diproduksi oleh Jive Collection
Hidup adalah pembelajaran. Jangan berhenti belajar, karena dalam belajar akan banyak yang kita temui yaitu keindahan hidup dan kenyamanan hidup. Bersosialisasilah dengan baik antar sesama, kelak kehidupan bangsa dan negara ini akan lebih baik dan lebih bermakna. Best Regards
Tuesday, October 9, 2012
A MIRACLE CURE
More and more people are turning away from their doctors and
instead, going to individuals who have no medical training and who sell
unproven treatments. They go to quacks to get everything from treatments for
colds to cures for cancer. And they are putting themselves in dangerous
situations.
Many people don't realize how unsafe it is to use unproven treatments.
During the time the person is using the product, his or her illness may be
getting worse. This can even cause the person to die.
So why do people trust quacks? People want the "miracle
cure". They want the product that will solve their problem quickly,
easily, and completely. A patient may be so afraid of pain, or even of dying, that
he or she will try anything. The quack knows this and offers an easy solution
at a very high price.
Quacks usually sell products and treatments for illnesses
that generally have no proven cure.
How can you recognize a quack? Sometimes it's easy because
he or she offers something we know is possible. These people lie, saying that
their product was made because of a recent scientific discovery. Many quacks
will say their product is good for many different illnesses, not just for one
thing. They usually like to offer money-back guarantees if their treatment
doesn't work. Unfortunately, the guarantee is often also a lie. Finally, clinic
will often be in another country.
Quacks try to sell their products in similar ways. They will
invite you to read testimonials, letters written by satisfied customers. These frauds
will also promise quick, exciting cures. Often they say the product is made in
a secret way or with something secret in it which can only be bought from a
particular company.
MULTIPLE CHOICE QUESTIONS
1. In fact, quacks ....
a) hazard people's
lives b)
cut people's pains
c) boost people's immune system d) help people heal
2. It may be inferred from the passage that people ....
a) should scorn
doctors' methods
b) may find some
relief using unproven treatments
c) should attend
shamen
d) receive better
quality of care at hospitals
3. The last thing many people are thinking about is ....
a) price of treatment
b) safety
c) level of proficiency of a person they turn to
d) side effects
4. According to the text, quacks' products may ....
a) lower the risk of
hereditable diseases
b) make treatment
less traumatic for patients
c) lead to decline
d) help protect
against fatal diseases
5. A lot of people have confidence in quacks because ....
a) sticking with doctors may put health at risk
b) they can't cope
with their problems
c) nontraditional approach to health care is harmless
d) quacks cause miracles
6. When you're ill, the best way to recover is to ....
a) stop taking pills b)
disrupt your daily routine
c) turn to quacks d) consult a
doctor
7. Quacks do not....
a) offer "panacea" b) disappoint people's hopes
c) give money-back guarantees d) satisfy customers
Subscribe to:
Comments (Atom)