Pemilu legislatif akan dimulai besok hari Rabu, tanggal 9 April 2014.
Semua rakyat Indonesia yang berumur 17 tahun keatas diwajibkan untuk ikut pemilu. Dan pemilu kali ini dianjurkan untuk tidak golput (golongan putih) yang berarti tidak ikut memilih satu calegpun. Dan ini dilarang, karena rakyat dituntuk untuk turut mendukung program oemerintah 5 tahun sekali ini.
Berbagai macam iklan, penyuluhan dan cara untuk menyoblos dalam pemilu dilakukan agar masyarakat ikut serta dalam pemilu kali ini. Sehingga mau tidak mau semua orang ikut memilih yang sesuai dengan hati nuraninya.
Tetapi banyak dari calon legislatif yang mengumbar semua janji agar dia dapat dengan mulus mencapai tujuannya, yaitu menjadi wakil rakyat dipusat pemerintahan, di daerah tingkat I dan tingkat II.
Janji yang telah diberikan sangat fantastis yang terkadang mengerikan, karena mereka berjanji yang tidak masuk akal. Dengan demikian banyak orang yang sangat tidak percaya dengan kebenaran dari caleg ini.
Koq gampang ya mereka berbohong untuk meraih sesuatu? Dan berbohong di depan orang banyak? Aaahh..mungkin mereka terbiasa dengan berbohong tersebut sehingga seperti orang yang yang memang dilahirkan untuk berbohong.
Apakah penyebab dari semua kebohongan ini? Beberapa pemikiran dapat menjadi fenomena dalam membahas orang yang seperti ini.
Salah satunya, yaitu ketika lahir, kita membawa bentuk-bentuk pikiran sebagai bagian dari batin kita. Setiap orang mempunyai bibit pikiran yang netral, pikiran yang baik dan pikiran yang buruk.
Yang membedakan hanyalah kadarnya, mana yang lebih besar; apakah pikiran baik atau pikiran buruk. Dalam perkembangan, inilah yang kemudian dikatakan sebagai sifat atau watak seseorang.
Dibandingkan orang jujur, umumnya para pembohong, penipu dan pemfitnah kronis, rata-rata memiliki 22% lebih banyak unsur putih (white matter) dalam pre-frontal cortex dari otaknya dan 14,2 % kurang unsur kelabu (gray matter) atau syaraf-syaraf, demikian ditemukan dalam studi terkini oleh University of Southern California.
Unsur putih menghubungkan syaraf seperti cara kabel telepon menghubungkan telepon. Unsur putih mengikat pre-frontal cortex dengan sistem limbic tubuh yang mengendalikan emosi.