Analysing mentoring dialogues for developing a preservice
teacher’s classroom management practices
Tracey Sempowicz
Queensland University of Technology,
tracey.sempowicz@qut.edu.au
Peter Hudson
Queensland University of Technology, pb.hudson@qut.edu.au
This Journal Article is posted at Research Online.
http://ro.ecu.edu.au/ajte/vol36/iss8/1
Recommended
Kunci permasalahan studi kualitative pada guru magang atau
preservice teacher di dalam manajemen kelas, termasuk manajemen perilaku siswa
dimana hal ini menjadi faktor utama dan sangat penting jika dihubungkan dengan
masalah guru magang yang meninggalkan profesi ini pada lima tahun pertamanya.
Studi ini menginvestigasi tentang praktek-praktek mentor
atau pendamping untuk memberi petunjuk atau memandu mentee pada praktek
manajemen kelas. Sumber data yang dipakai beragam yaitu rencana
pembelajaran, refleksi daru guru baru, report dari mentor, dan video dan
interview-interview yang sudah di record sebelumnya.
Selain itu, studi kasus ini, memakai 5 faktor mentoring
untuk menganalisa dialogues tentang praktek-praktek manajemen kelas yaitu: (1)
Personal Attribute (2). System Requirement; (3) Pedagogical Knowledge; (4)
Modelling; (5) Feedback.
Sampel yang dipakai adalah 30 dari 34 populasi preservice teacher untuk praktek
mentoring yang menyediakan masukan kedalam manajemen kelas dari mentee
tersebut. Bagaimanapun juga tidak ada masalah yang berarti dalam tujuan
mentoring, jadwal atau assessment yang memfasilitasi pengembangan manajeme
sikap dari mentee tersebut.
Secara khusus, hal menggambar pada sistem persyaratan
dokumen, program manajemen pemodelan perilaku sekolah, mengartikulasikan
pengetahuan pedagogis tentang pelaksanaan manajemen perilaku, dan menyediakan
umpan balik dalam implementasi yang disajikan untuk mentee dengan peluang yang
efektif.
Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan data dari penelitian
kualitatif ini, penelitian dapat memberikan wawasan penting ke dalam praktek
mentor atau pendamping. Memanfaatkan 5 (lima )
faktor sebagai kerangka kerja ini dapat menganalisis praktek mentor yang
memberikan pemahaman dalam pembelajaran yang efektif serta dapat memberi
dukungan kepada guru baru untuk membangun menjadi guru yang lebih profesional.
Dengan menggunakan 5 faktor model mentoring ini yang dapat memberi panduan
dalam praktek-praktek pengetahuan pedagogis khususnya perencanaan, persiapan,
strategi pengajaran, mempertanyakan kemampuan, penilaian dan sebagainya.
Penelitan ini juga dapat diperlukan untuk memahami
bagaimana seorang mentor atau pendamping yang efektif dapat memfasilitasi
pengembangan guru (dalam hal ini mentee) dan dalam hubungannya dengan
siswa dan praktek yang paling efektif dalam menanamkan sikap percaya diri dan
sikap positif untuk mengajar. Kualitas dalam memberikan mentoring dapat
meningkatkan perkembangan pada diri mentee khususnya dalam pedagodi dan dapat
mengumpulkan bukti empiris tentang bagaimana mentor menggunakan pengetahuannya
dan ketrampilannya untuk dapat menginformasikan dan memberi bantuan
pengembangan dalam program mentoring yang efektif.
Analysis of the Study
Tujan dari Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah dalam
melakukan mentoring, seorang mentor atau pendamping yang efektif dapat
memberikan pengaruh yang efektif pada mentee sebagai preservice teacher ditahun
kedua sebagai guru baru. Karena banyak guru-guru muda meninggalkan profesinya
sebagai guru karena mempunyai masalah dalam manajemen kelas terutama dalam me
manage sikap murid.
2. Selain itu, tujuan dari studi
ini untuk menyelidiki apakah mentor dapat memberi jalan keluar pada mentee
untuk memecahkan masalah yang dihadapi didalam kelas dengan.
3. Studi ini mengusahakan untuk
mengidentifikasikan proses dari hubungan mentor dan mentee didalam kelas dengan
menggunaka 5 faktor untuk tercapainya pembelajaran dikelas.
Asumsi dari peneliti dalam
studi dasar mentoring:
a. Dengan memberikan mentoring
pada mentee didalam kelas, maka mentee dapat menunjukkan kinerja yang efektif.
b.
Penggunaan 5 faktor model dapat memecahkan problem yang ada dalam diri mentee.
c.
Dengan menggunakan sumber data seperti rancangan pembelajaran, refleksi guru
baru dalam mengajar, laporan dari mentor, penggunaan video atau wawancara dalam
studi kasus ini dapat menganalisa dialog mentor dan mentee tentang praktek
manajemen kelas.
Justification:
Beberapa negara bagian di Australia telah menetapkan standar untuk mengajar,
walaupun tidak ada standar formal untuk mentor. Dengan demikian pendampingan
oleh guru-guru yang berpengalaman di sekolah yang saat ini ada sekitar 20%
preservice teacher untuk magang disetiap sekolah.
Studi ini menginvestigasi
tentang praktek-praktek mementor yang dipakai untuk memberi petunjuk untuk
mentee di manajemen kelas. Penggunaan sumber data yang banyak (seperti
rancangan pembelajaran, refleksi preservice teacher, laporan dari mentor, dan
video atau wawancara didalam audio recorded), dalam studi kasus ini memakai 5
faktor kerangka mentoring untuk menganalisa dialog antara mentor dan mentee
tentang praktek manajemen kelas. Lebih khusus ini, studi kasus menginvestigasi
cara mementor pada preservice teacher atau guru magang di tahun kedua
perkuliahan (mentee) agar praktek manajemen kelas dapat lebih efektif dalam
model mentoring sebagai kerangka teori ntuk mengumpulkan data kualitatif dari
seorang mentor (bekerjasama dengan guru kelas) dan mentee.
Peneliti memberikan gambaran
yang jelas dalam penelitian analisis, sehingga pembaca tidak mengalami
kesulitan dalam mengidentifikasi tentang tujuan penelitian dan masalah yang
dihadapi.
Masalah yang dikemukakan
adalah suatu konsekwensi sosial yang memang dihadapi oleh calon guru dan hal
ini di jelaskan secara gamblang oleh peneliti.
Prior Reseach:
Untuk penelitian mengenai mentoring di dalam pembelajaran, banyak
universitas-universitas di Australia yang sudah meneliti masalah ini. Tetapi untuk ‘Analysis Mentoring Dialogues for Developing a
Preservice Teacher’s Classroom Management Practices’, belum ada sebelumnya.
Karena masalah ini adalah masalah yang specific dalam pengembangan mentor
teacher yang hanya berfokus pada preservice teacher.
Dalam studi kasus ini, disusun dan menganalisis data pada 30 dari 34 atribut
dan praktek-praktek mentoring yang terkait dengan 5 faktor model mentoring.
Sehingga data yang dikumpulkan tidak banyak. Sehingga pengembangan tujuan dan
kurikulum, penilaian formal atau penjadwalan atau scheduling) tidak diberikan.
Masalah yang berkaitan dengan kurikulum, penjadwalan hanya ditangani dalam
konteks perencanaan pembelajaran mentee itu sendiri. Hal ini dilakukan karena
pengalaman praktek magang pertama dari mentee, dan mentor tidak membimbing
mentee dalam penilaian magang. Padahal untuk universitas itu sendiri, penilaian
adalah suatu yang sangat penting untuk kemajuan menjadi guru magang melalui
pengalaman praktek mereka.
Hipotesis:
Dalam penelitian ini, tidak ada pencantuman hipotesis.
Tetapi jika ditelaah lebih lanjut, dapat disebutkan bahwa dalam introduction
dapat dilihat bahwa “This study
investigates the mentoring of a second-year preservice
teacher (mentee) in effective
classroom management practices using this mentoring model
as a theoretical framework for
collecting qualitative data from a mentor (cooperating
classroom teacher) and mentee”; dapat disebutkan sebagai hipotesis.
Maka investigasi dalam mentoring untuk guru magang tahun ke
dua yang sebagai mentee dalam menjalankan manajemen kelas secara efektif dengan
menggunakan mentoring atau model pendampingan atau mentoring model sebagai
kerangka teori untuk mengumpulkan data kualitatif dari para mentor dan mentee
dapat disebutkan sebagai hipotesis.
Sample:
Sample dari penelitian ini adalah 30 guru magang atau preservice teachers
dengan populasi 34 guru magang yang mendaftar. Semua ini diambil dari program
magang Sarjana Pendidikan Dasar di Queensland University of Technology.
Guru magang tersebut harus
mengunjungi sekolah 6 x setiap harinya dalam seminggu. Mentee atau guru magang
mempelajari tentang budaya sekolah, infrastruktur dan siswa dalam kelas yang
mereka kunjungi.
Para guru magang menyelesaikan praktek mengajar selama 4 minggu untuk
mengembangkan kemampuan pedagogiknya termasuk membangun pengetahuan tentang
teknik-teknik manajemen perilaku untuk siswa SD.
Instrumentasi:
Instrumentasi yang dipakai adalah interview. Hal ini dapat dilihat dalam
berbagai sumber bukti untuk menyusun dan menganalisis data pada atribut dan
praktek-praktek yang terkait dengan memakai 5 faktor model mentoring.
Dan sumber instrumentasi ini
dimasukkan pada 5 pengamatan langsung dan direkam dalam rekaman video dialog;
yang berupa 8 informal audio setiap sesinya; 7 audio yang direkam per episode
mengajar; 6 rencana pembelajaran resmi yang tertulis dan 15 refleksi mentee
yang tertulis; 3 tanggapan tentang pengajaran yang merupakan evaluasi dari
mentor; wawancara dapat dilihat dari volume 36, 8 Agustus 2011 tentang
pengamatan pelajaran oleh peneliti yaitu sebuah wawancara individu formal
dengan mentee yang disusul oleh wawancara kepada mentor. Laporan-laporan studi
lapangan mente. Dialog mentor-mentee yang berdurasi antara 7-16 menit berupa
video recorded. Dialog informal mentor-mentee berkisar 4-12 menit yang direkam
dalam digital audio. Dialog ini terjadi sebelum atau pada pembelajaran yang
diajarkan. Serta aktivitas kelas singkat (20-30 menit) yang terdapat dalam
pembelajaran 1x pembelajaran selama 57 menit.
Procedure (Internal Validity):
Prosedur penelitian ini memakai 5 faktor model mentor yaitu:
1. Personal Attributes
Dalam
suatu wawancara, Anna (mentee) menyatakan bahwa mentornya (Grace) menunjukkan
pribadi dengan atribut dan sikap positif. Hal ini memberikan model dalam
mengajar (misalnya mendukung apa yang dilakukan mentee didalam kelas, selalu
tepat waktu, dan dapat diandalkan untuk membantu pemahaman Anna dalam praktek
manajemen kelas dan strategi proaktifnya.
Dalam
sebuah sesi yang direkam dalam audio, Anna juaga mengklaim bahwa mentornya
mendengarkan ide-idenya dan memungkinkan Anna untuk mencoba hal baru dan
kemudian membantunya untuk memikirkan kembali hasil dari setiap episode
pengajarannya. Dalam dialognya di video rekaman, Grace sebagai mentor adalah
seorang mentor yang efektif dan mentee dapat berbicara secara nyaman sehingga
saran, penjelasan yang diberikan mentor dapat membantunya dalam strategi
manajemen kelas.
Tabel1:
Video-recorded data of mentor and mentee talk time:
|
Day of practicum
|
Dialogue session
|
Session Length*
|
Total talk time (mins and secs)
|
Classroom management talk (subset
of total time)
|
Classroom management talk (as %
of total talk)
|
|||
|
20 days
|
|
|
|
Mentee
|
|
Mentee
|
|
Mentee
|
|
2
|
1
|
15:33
|
14:11
|
1:10
|
0:29
|
0:00
|
3%
|
0%
|
|
5
|
2
|
7:22
|
4:00
|
3:21
|
0:24
|
1:00
|
10%
|
30%
|
|
10
|
3
|
11:15
|
5:22
|
3:51
|
0:50
|
0:46
|
16%
|
20%
|
|
12
|
4
|
13:29
|
7:32
|
4:20
|
2:58
|
0:49
|
39%
|
19%
|
|
17
|
5
|
11:55
|
8:28
|
2:40
|
1:04
|
0:22
|
13%
|
14%
|
Total time recorded in minutes and seconds
Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari episode
video ini, waktu mentor berbicara berkisar antara 4 sampai 14:11 menit,
sementara mentee berbicara berkisar antara 1:10 sampai 4:20 menit (tabel 1).
Menariknya mentor berbicara lebih banyak tentang teknik
manajemen kelas dari pada mentee disemua dialog dalam sesi video dengan
pengecualian hanya satu. Analisis lebih lanjut menunjukkan tentang pembicaraan
dalam managemen kelas yang baik untuk mentor dan mentee berkisar antara 3% dan
39% dari total waktu bicara di lima
sesi (tabel 1). Frekuensi dan keseimbangan antara mentor dan dialog
co-generative dari mentee (lihat Roth, Tobin & Zimmerman, 2002) yang
mengatakan bahwa Grace diartikulasikan lebih banyak pengetahuan tentang
praktek-praktek pengajaran dibandingkan Anna. Dan Anna bersedia mendengarkan
dan memberi kesempatan pada mentor untuk berbicara.
Tabel 2: Audio-recorded data of mentor and mentee talk time.
Total time recorded in minutes and seconds
|
Day of practicum
|
Dialogue session
|
Session Length*
|
Total talk time (mins and secs)
|
Classroom management talk (subset
of total time)
|
Classroom management talk (as %
of total talk)
|
|||
|
20 days
|
|
|
|
Mentee
|
|
Mentee
|
|
Mentee
|
|
2
|
1
|
3:51
|
1:17
|
2:15
|
0:15
|
1:02
|
19%
|
46%
|
|
|
2
|
6:07
|
1:30
|
3:35
|
0:21
|
0:46
|
23%
|
21%
|
|
4
|
3
|
4:55
|
0:55
|
3:33
|
0:17
|
0:49
|
31%
|
23%
|
|
5
|
4
|
7:36
|
1:45
|
4:36
|
0:27
|
2:13
|
26%
|
48%
|
|
7
|
5
|
10:59
|
3:12
|
8:26
|
0:33
|
2:03
|
17%
|
24%
|
|
|
6
|
8:54
|
5:38
|
2:56
|
1:00
|
0:05
|
18%
|
5%
|
|
12
|
7
|
5:56
|
1:25
|
1:46
|
0:04
|
1:18
|
5%
|
74%
|
|
17
|
8
|
4:51
|
1:16
|
3:21
|
0:00
|
0:00
|
0%
|
0%
|
Perbandingan
data yang direkam dalam rekaman video, audio-recorded, dialog yang terungkap
adalah kurang bicaranya mentee dan lebih tinggi tingkat mendengarkan penuh
perhatian mentee (no. 7 dan 8). Hal ini menunjukkan Grace dan Anna memberikan
kesempatan untuk berbagi dan mendiskusikan rencana pembelajarannya dan lebih
pada merenung (tabel 2).
Dalam
kasus lainnya, waktu berbicara mentor (pertanyaan, saran, konfirmasi dan
pujian) berkisar antara 55 detik sampai 5:38 menit, sedangkan waktu bicara
mentee yang berkisar 1:14 sampai 8:26 menit.
Pada suatu sesi audio (sesi 6) mentor
melakukan pembicaraan sekitar 05:38 menit yang melebihi mentee (02:56 menit).
Grace menawarkan banyak saran untuk pengajaran pada topik yang baru. Saran itu
seperti strategi manajemen kelas termasuk menetapkan dan fokus pada strategi,
transisi antara kegiatan dan memanage tingkat keributan siswa. (Arthur- Kelly
et al 2003; Snowman et al, 2009).
Salah satu contoh ketika Grace
menyaatakan “Ini selalu penting setelah jam istirahat yang memiliki aktifitas
tetap... dan hal ini membuat saya memberikan model pembelajaran seperti ini”.
Selama sesi ini, mentee menanggapi dengan singkat “OK”. Tanggapan terhadap
mentoring semua saran manajemen kelas, bahasa tubuh misalnya nada suara, dan
harus kembali cepat untuk berbicara tentang isi pempelajaran dan pedagogi. Hal
ini menunjukkan bahwa dia sangat ingin memberikan penjelasan dan mentee sangat
ingin menerima penjelasan tentang unsur-unsur rancangan pembelajaran sebelum
mentee mengajar.
Demikian juga dalam sesi terakhir (8),
yang diskusinya terfokus pada isi pelajaran yang baru dan akan diajarkan dan
pedagogi apa yang tepat serta strategi manajemen kelas.
Data ini menunjukkna bahwa ketika
pelajaran yang panjang dan konten pembelajaran masih baru, dialog difokuskan ke
tingkat yang lebih besar pada konten dan pedagogi. Dan pada pelajaran yang
lebih pendek dan lebih berbasis aktivitas (seni musik atau menggambar; sesi 4
dan 5) atay oada waktu tertentu dalam sehari misalnya setelah waktu istirahat,
perhatian yang lebih besar diberika kepada strategi manajemen kelas.
2. System Requirements:
Merancang pembelajaran yang
relevan dan sesuai dengan rencana untuk lingkungan belajar adalah hal yang
pokok dalam manajemen kelas. (Snowman et al., 2009). Mentor s yang ebagai
pendamping perlu menjelaskan secara artikulasi tujuan (misalnya standar,
prestasi, hasil, kebijakan dan kurikulum yang diperlukan untuk suatu sistem
pendidikan.
Dalam hal studi kasus ini, mentor menerangkan pada mentee pada pokok
permasalahan dari system requirements yang mana dirasa penting untuk dapat
fokus dalam kelas manajemen sebagai prioritas utama.
System requirement ini melibatkan Anna sebagai
mentee. Grace
memberi Anna pengalaman pertamanya di dalam kelas mengenai kebijakan perilaku
siswa didalam kelas. Mentee memilih, merencanakan dan mengimplementasikan dua
jadwal pelajaran dalam seluruh kelas yang akan diajarkannya. Metor percaya
bahwa siswa dapat mengembangkan perilaku yang positif sebagai hasil dari
Program Achieve dan menyarankan pada Anna sebagai partisipan didalam program
ini untuk agar dapat mengidentifikasikan hasil yang positif dari siswa. Observasi
dan interview mengkonfirmasikan bahwa mentee mengerti pendekatan untuk seluruh
pembelajaran dikelas di sekolah tersebut dalam manajemen perilaku dan
menerapkan trategi pembelajarannya secara konfidensial untuk pelajaran lainnya.
Dalam interview tersebut, Anna mengatakan bahwa program manajemen perilaku
menolong saya untuk dapat masuk dalam pengajaran saya.
3. Pedagogical Knowledge
Mentor
dan mentee dipandu dalam membuat hubungan langsung antara pengetahuan pedagogis
dan manajemen kelas yang positif. Pengamatan ini direkam dalam rekaman video
dialog dan rencana pelajaran mengungkapkan bahwa Anna memperhatikan saran
mentor (Grace) untuk mengembangkan kemampuan bahasa siswa sebagai target dalam
membangun zona proksimal yang melibatkan mereka dalam tuga-tugas yang diberikan
mentee. (Vygotsky, 1986). Anna mengadakan pengulangan-pengulangan dan praktek
yang dibimbing melalui kata-kata atau verbal oleh mentor dalam konsep
pengetahuan pedagogis. Grace sebagai mentor menekankan perlunya siswa
menggunakan terminologi yang baru untuk merefleksi dari pembelajarannya sendiri
dan memperbaiki keterlibatan Anna dalam mengulang terus apa yang diajarkan
dalam pelajaran IPA atau matematika.
Observasi ini dilakukan pada bagian kedua dari pengalaman magang di sekolah
lain dan membuktikan bahwa mentee telah menunjukkan strategi psikologis yang
dapat diterima dan memastikan bahwa manajemen kelas siswa dapat berjalan secara
efektif. (Woolfolk & Margetts, 2010).
4. Pemodelan
Grace
tidak hanya membahas praktek pengelolaan kelas, namun model yang mereka pakai
dalam pembelajaran dengan mengadaptasi pengajaran sendiri. Dalam wawancara itu,
Anna yang diidentifikasi sebagai model teladan. Transisi antara kegiatan yang
terstruktur seperti gerakan siswa dari bangkunya ke meja guru atau dari
bangkunya ke lantai; strategi untuk siswa yang duduk diam (misalnya membaca
pada makan siang, langkah-langkah diskusi untuk berpartisipasi dalam
pembelajaran yang memerlukan kerapian seperti dalam pelajaran seni dan
kerajian).
Harapan
pengulangan perilaku seperti ini menjadi kebiasaan siswa, dan dapat menjadi
strategi yang menggunakan bahasa non-verbal dan bahasa tubuh (seperti
kedekatan, kontak mata, gerakan guru didalam kelas); pertanyaan untuk memeriksa
pemahaman siswa dan menanyakan kembali aturan dalam manajemen waktu dan
keselamatan dalam kelas.
5. Feed back atau umpan balik
Selama
sesi dialog, Grace menunjukkan pentingnya menyediakan umpan balik kepada
mentee, dan membangun metode refleksi-diri untuk para mentee dan adanya
perbaikan secara terus menerus. Grace menguraikan harapanya (merancang rencana
pembelajaran, meninjau pelajaran yang dibuat mentee dan memberikan refleksi
atau pemikiran untuk mentee selama minggu pertama praktek magang. Bukti lain
dan langsung dalam struktur dari ke dua sesi dialog dicatat dan menjadi
pemikiran untuk mentee. Para mentor dan mentee akan bertemu sebelum pelajaran
untuk meninjau rencana pembelajaran dari mentee dan mendiskusikan ide-ide lebih
lanjut dan strategi pengajaran termasuk strategi manajemen kelas.
Mentor
mengamati pelajaran yang diajarkan dan memberikan beberapa komentar lisan yang
cepat sebagai umpan balik yang cepat dan siswa dapat mengikuti pembelajaran
yang telah disiapkan. Grace sebagai mentor mempersiapkan tanggapan tertulis
formal pada pengamatan pengajaran dalam pembelajaran berikutnya.
Hasil dan Diskusi:
Analisis data menunjukkan bahwa
manajemen kelas adalah wilayah tertentu dari pengembangan guru bahwa sebagai
mentor, guru memilih untuk berfokus pada guru magang. Pembahasan ini
mengungkapkan bahwa mayoritas atribut dan praktek-praktek yang diuraikan dalam
5 faktor model ini memberi dampak dalam berbagai tingkat kemampuan mentor dalam
mempengaruhi pemahaman mentee dalam praktek manajemen kelas yang efektif.
Studi kasus ini disusun dan
menganalisis data sampel 30 dari 34 atribut dan praktek-praktek yang terkait
dengan 5 faktor model mentoring. Data untuk pengembangan tujuan dan kurikulum,
penilaian formal atau penjadwalan pada praktek periode pertama. Masalah yang
berkaitan dengan tujuan, kurikukum dan penjadwalan hanya dibicarakan dalam
konteks perencanaan pembelajaran mentee itu sendiri. Karena penilaian magang tidak diberikan dalam studi kasus
ini.
Padahal pada universitas itu
sendiri, penilaian magang menjadi fokus untuk guru magang melalui kemajuannya
di dalam prakteknya.
Hasil studi ini telah menunjukkan
bahwa pengumpulan data dari kasus penelitian kualitatif dapat memberikan
wawasan penting dalam mentoring. Dalam memanfaatkan 5 faktor model mentoring
sebagai kerangka kerja untuk mengumpulkan dan menganalisis data mentoring dapat
memberikan pemahaman yang lebih rinci tentang atribut yang efektif dan dapat
menginformasikan untuk menjadi guru yang profesional. Penelitian yang akan datang
dapat melanjutkan dan penelitian ini dengan menggunakan 5 faktor model
mentoring dalam praktek ilmu pedagogis seperti perencanaan, persiapan, strategi
pengajaran dan mempertanyakan kemampuan, penilaian dan sebagainnya. Penelitian
ini diberikan untuk memahami bagaimana mementor yang efektif yang dapat
memfasilitasi pengembangan antara guru atau mentor, mentee dan siswa dan dapat
menanam sikap percaya diri yang efektif dan positif untuk mengajar. Mentoring
yang berkualitas dapat meningkatkan perkembangan pedagogi seorang mentee dan
dapat mengumpulkan bukti empiris tentang bagaimana mentor khususnya dapat
menggunakan pengetahuan dan ketrampian dalam menginformasikan dan membantu
pengembangan mentoring yang lebih efektif.
Kesimpulan:
Penelitian kualitatif dilakukan dalam praktek mentoring dengan model mentoring
empiris. Secara khusus, penelitian ini terfokus pada praktek mentoring yang
dapat meningkatkan kualitas dari mentee. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan 5 faktor model mentoring yang ada dalam kerangka penelitian.
Penelitian ini menunjukkan bahwa seorang model mentor yang melakukan praktek
mentoring pada mentee dapat memfasilitasi kesempatan untuk menambah
pengetahuannya dan mempengaruhi cara pengajaran dengan menggunakan pengembangan
ilmu pedagogis.
Adanya review dalam rencana pembelajaran dengan cara dialog
mengenai konten yang akan disajikan dapat memperbaiki ilmu pedagogis dari
mentee itu sendiri. Dialog-dialog menanamkan kepercayaan diri dalam pengalaman
praktek magang yang pertama dan dilanjutkan pada praktek yang ke dua yang telah
dimodifikasikan dengan pembelajaran dan perbaikan mengajar dan mengetahui hasil
pembelajarananya.
Dalam mementor, mentor dapat mengamati ajaran yang
diberikan oleh mentee yang mempunyai kekuasaan penuh didalam kelas dan mendapat
dukungan dari mentor. Umpan balik secara lisan dan tertulis yang diberikan
mentor sebelum dan sesudah mengajar mentee, adalah cerminan yang berpeluang
untuk membahas pembelajaran mentee didalam kelas dan mentee dapat
mengintrospeksi sendiri hasil pengajaran didalam kelas dan ini dapat mengarah
pada perubahan berikutnya dalam ilmu pedagogis, konten pembelajaran dan
strategi manajemen kelas.