Sunday, December 11, 2011

JOURNAL ANALYSIS KNOWLEDGE MANAGEMENT



Analysing mentoring dialogues for developing a preservice teacher’s classroom management practices

Tracey Sempowicz
Queensland University of Technology, tracey.sempowicz@qut.edu.au
Peter Hudson
Queensland University of Technology, pb.hudson@qut.edu.au

This Journal Article is posted at Research Online.
http://ro.ecu.edu.au/ajte/vol36/iss8/1
Recommended

 Ringkasan Journal:
          Kunci permasalahan studi kualitative pada guru magang atau preservice teacher di dalam manajemen kelas, termasuk manajemen perilaku siswa dimana hal ini menjadi faktor utama dan sangat penting jika dihubungkan dengan masalah guru magang yang meninggalkan profesi ini pada lima tahun pertamanya.
Studi ini menginvestigasi tentang praktek-praktek mentor atau pendamping untuk memberi petunjuk atau memandu mentee pada praktek manajemen kelas. Sumber data yang dipakai  beragam yaitu rencana pembelajaran, refleksi daru guru baru, report dari mentor, dan video dan interview-interview yang sudah di record sebelumnya.
Selain itu, studi kasus ini, memakai 5 faktor mentoring untuk menganalisa dialogues tentang praktek-praktek manajemen kelas yaitu: (1) Personal Attribute (2). System Requirement; (3) Pedagogical Knowledge; (4) Modelling; (5) Feedback.

            Sampel yang dipakai adalah 30 dari 34 populasi preservice teacher untuk praktek mentoring yang menyediakan masukan kedalam manajemen kelas dari mentee tersebut. Bagaimanapun juga tidak ada masalah yang berarti dalam tujuan mentoring, jadwal atau assessment yang memfasilitasi pengembangan manajeme sikap dari mentee tersebut.
Secara khusus, hal menggambar pada sistem persyaratan dokumen, program manajemen pemodelan perilaku sekolah, mengartikulasikan pengetahuan pedagogis tentang pelaksanaan manajemen perilaku, dan menyediakan umpan balik dalam implementasi yang disajikan untuk mentee dengan peluang yang efektif.
            Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan data dari penelitian kualitatif ini, penelitian dapat memberikan wawasan penting ke dalam praktek mentor atau pendamping. Memanfaatkan 5 (lima) faktor sebagai kerangka kerja ini dapat  menganalisis praktek mentor yang memberikan pemahaman dalam pembelajaran yang efektif serta dapat memberi dukungan kepada guru baru untuk membangun menjadi guru yang lebih profesional.
            Dengan menggunakan 5 faktor model mentoring ini yang dapat memberi panduan dalam praktek-praktek pengetahuan pedagogis khususnya perencanaan, persiapan, strategi pengajaran, mempertanyakan kemampuan, penilaian dan sebagainya.
Penelitan ini juga dapat diperlukan untuk memahami bagaimana seorang mentor atau pendamping yang efektif dapat memfasilitasi pengembangan guru (dalam hal ini mentee) dan dalam hubungannya dengan  siswa dan praktek yang paling efektif dalam menanamkan sikap percaya diri dan sikap positif untuk mengajar. Kualitas dalam memberikan mentoring dapat meningkatkan perkembangan pada diri mentee khususnya dalam pedagodi dan dapat mengumpulkan bukti empiris tentang bagaimana mentor menggunakan pengetahuannya dan ketrampilannya untuk dapat menginformasikan dan memberi bantuan pengembangan dalam program mentoring yang efektif.

Analysis of the Study

Tujan dari Penelitian
    1. Untuk mengetahui apakah dalam melakukan mentoring, seorang mentor atau pendamping yang efektif dapat memberikan pengaruh yang efektif pada mentee sebagai preservice teacher ditahun kedua sebagai guru baru. Karena banyak guru-guru muda meninggalkan profesinya sebagai guru karena mempunyai masalah dalam manajemen kelas terutama dalam me manage sikap murid.
    2. Selain itu, tujuan dari studi ini untuk menyelidiki apakah mentor dapat memberi jalan keluar pada mentee untuk memecahkan masalah yang dihadapi didalam kelas dengan.
    3. Studi ini mengusahakan untuk mengidentifikasikan proses dari hubungan mentor dan mentee didalam kelas dengan menggunaka 5 faktor untuk tercapainya pembelajaran dikelas.

     Asumsi dari peneliti dalam studi dasar mentoring:
    a. Dengan memberikan mentoring pada mentee didalam kelas, maka mentee dapat menunjukkan kinerja yang efektif.
     b. Penggunaan 5 faktor model dapat memecahkan problem yang ada dalam diri mentee.
   c. Dengan menggunakan sumber data seperti rancangan pembelajaran, refleksi guru baru dalam mengajar, laporan dari mentor, penggunaan video atau wawancara dalam studi kasus ini dapat menganalisa dialog mentor dan mentee tentang praktek manajemen kelas.

Justification:
            Beberapa negara bagian di Australia telah menetapkan standar untuk mengajar, walaupun tidak ada standar formal untuk mentor. Dengan demikian pendampingan oleh guru-guru yang berpengalaman di sekolah yang saat ini ada sekitar 20% preservice teacher untuk magang disetiap sekolah.
Studi ini menginvestigasi tentang praktek-praktek mementor yang dipakai untuk memberi petunjuk untuk mentee di manajemen kelas. Penggunaan sumber data yang banyak (seperti rancangan pembelajaran, refleksi preservice teacher, laporan dari mentor, dan video atau wawancara didalam audio recorded), dalam studi kasus ini memakai 5 faktor kerangka mentoring untuk menganalisa dialog antara mentor dan mentee tentang praktek manajemen kelas. Lebih khusus ini, studi kasus menginvestigasi cara mementor pada preservice teacher atau guru magang di tahun kedua perkuliahan (mentee) agar praktek manajemen kelas dapat lebih efektif dalam model mentoring sebagai kerangka teori ntuk mengumpulkan data kualitatif dari seorang mentor (bekerjasama dengan guru kelas) dan mentee.
Peneliti memberikan gambaran yang jelas dalam penelitian analisis, sehingga pembaca tidak mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi tentang tujuan penelitian dan masalah yang dihadapi.
Masalah yang dikemukakan adalah suatu konsekwensi sosial yang memang dihadapi oleh calon guru dan hal ini di jelaskan secara gamblang oleh peneliti.

Prior Reseach:
            Untuk penelitian mengenai mentoring di dalam pembelajaran, banyak universitas-universitas di Australia yang sudah meneliti masalah ini. Tetapi untuk ‘Analysis Mentoring Dialogues for Developing a Preservice Teacher’s Classroom Management Practices’, belum ada sebelumnya. Karena masalah ini adalah masalah yang specific dalam pengembangan mentor teacher yang hanya berfokus pada preservice teacher.
            Dalam studi kasus ini, disusun dan menganalisis data pada 30 dari 34 atribut dan praktek-praktek mentoring yang terkait dengan 5 faktor model mentoring. Sehingga data yang dikumpulkan tidak banyak. Sehingga pengembangan tujuan dan kurikulum, penilaian formal atau penjadwalan atau scheduling) tidak diberikan.
            Masalah yang berkaitan dengan kurikulum, penjadwalan hanya ditangani dalam konteks perencanaan pembelajaran mentee itu sendiri. Hal ini dilakukan karena pengalaman praktek magang pertama dari mentee, dan mentor tidak membimbing mentee dalam penilaian magang. Padahal untuk universitas itu sendiri, penilaian adalah suatu yang sangat penting untuk kemajuan menjadi guru magang melalui pengalaman praktek mereka.

Hipotesis:
Dalam penelitian ini, tidak ada pencantuman hipotesis. Tetapi jika ditelaah lebih lanjut, dapat disebutkan bahwa dalam introduction dapat dilihat bahwa “This study
investigates the mentoring of a second-year preservice teacher (mentee) in effective
classroom management practices using this mentoring model as a theoretical framework for
collecting qualitative data from a mentor (cooperating classroom teacher) and mentee”; dapat disebutkan sebagai hipotesis.
Maka investigasi dalam mentoring untuk guru magang tahun ke dua yang sebagai mentee dalam menjalankan manajemen kelas secara efektif dengan menggunakan mentoring atau model pendampingan atau mentoring model sebagai kerangka teori untuk mengumpulkan data kualitatif dari para mentor dan mentee dapat disebutkan sebagai hipotesis.    

Sample:
            Sample dari penelitian ini adalah 30 guru magang atau preservice teachers dengan populasi 34 guru magang yang mendaftar. Semua ini diambil dari program magang Sarjana Pendidikan Dasar di Queensland University of Technology.
Guru magang tersebut harus mengunjungi sekolah 6 x setiap harinya dalam seminggu. Mentee atau guru magang mempelajari tentang budaya sekolah, infrastruktur dan siswa dalam kelas yang mereka kunjungi.
            Para guru magang menyelesaikan praktek mengajar selama 4 minggu untuk mengembangkan kemampuan pedagogiknya termasuk membangun pengetahuan tentang teknik-teknik manajemen perilaku untuk siswa SD.

Instrumentasi:
            Instrumentasi yang dipakai adalah interview. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai sumber bukti untuk menyusun dan menganalisis data pada atribut dan praktek-praktek yang terkait dengan memakai 5 faktor model mentoring.
Dan sumber instrumentasi ini dimasukkan pada 5 pengamatan langsung dan direkam dalam rekaman video dialog; yang berupa 8 informal audio setiap sesinya; 7 audio yang direkam per episode mengajar; 6 rencana pembelajaran resmi yang tertulis dan 15 refleksi mentee yang tertulis; 3 tanggapan tentang pengajaran yang merupakan evaluasi dari mentor; wawancara dapat dilihat dari volume 36, 8 Agustus 2011 tentang pengamatan pelajaran oleh peneliti yaitu sebuah wawancara individu formal dengan mentee yang disusul oleh wawancara kepada mentor. Laporan-laporan studi lapangan mente. Dialog mentor-mentee yang berdurasi antara 7-16 menit berupa video recorded. Dialog informal mentor-mentee berkisar 4-12 menit yang direkam dalam digital audio. Dialog ini terjadi sebelum atau pada pembelajaran yang diajarkan. Serta aktivitas kelas singkat (20-30 menit) yang terdapat dalam pembelajaran 1x pembelajaran selama 57 menit.

Procedure (Internal Validity):
Prosedur penelitian ini memakai 5 faktor model mentor yaitu:

    1.  Personal Attributes
     Dalam suatu wawancara, Anna (mentee) menyatakan bahwa mentornya (Grace) menunjukkan pribadi dengan atribut dan sikap positif. Hal ini memberikan model dalam mengajar (misalnya mendukung apa yang dilakukan mentee didalam kelas, selalu tepat waktu, dan dapat diandalkan untuk membantu pemahaman Anna dalam praktek manajemen kelas dan strategi proaktifnya.
     Dalam sebuah sesi yang direkam dalam audio, Anna juaga mengklaim bahwa mentornya mendengarkan ide-idenya dan memungkinkan Anna untuk mencoba hal baru dan kemudian membantunya untuk memikirkan kembali hasil dari setiap episode pengajarannya. Dalam dialognya di video rekaman, Grace sebagai mentor adalah seorang mentor yang efektif dan mentee dapat berbicara secara nyaman sehingga saran, penjelasan yang diberikan mentor dapat membantunya dalam strategi manajemen kelas.

     Tabel1: Video-recorded data of mentor and mentee talk time:
           
Day of practicum
Dialogue session
Session Length*
Total talk time (mins and secs)
Classroom management talk (subset of total time)
Classroom management talk (as % of total talk)
20 days


Mentor
Mentee
Mentor
Mentee
Mentor
Mentee
2
1
15:33
14:11
1:10
0:29
0:00
3%
0%
5
2
7:22
4:00
3:21
0:24
1:00
10%
30%
10
3
11:15
5:22
3:51
0:50
0:46
16%
20%
12
4
13:29
7:32
4:20
2:58
0:49
39%
19%
17
5
11:55
8:28
2:40
1:04
0:22
13%
14%

Total time recorded in minutes and seconds
Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari episode video ini, waktu mentor  berbicara berkisar antara 4 sampai 14:11 menit, sementara mentee berbicara berkisar antara 1:10 sampai 4:20 menit (tabel 1).
Menariknya mentor berbicara lebih banyak tentang teknik manajemen kelas dari pada mentee disemua dialog dalam sesi video dengan pengecualian hanya satu. Analisis lebih lanjut menunjukkan tentang pembicaraan dalam managemen kelas yang baik untuk mentor dan mentee berkisar antara 3% dan 39% dari total waktu bicara di lima sesi (tabel 1). Frekuensi dan keseimbangan antara mentor dan dialog co-generative dari mentee (lihat Roth, Tobin & Zimmerman, 2002) yang mengatakan bahwa Grace diartikulasikan lebih banyak pengetahuan tentang praktek-praktek pengajaran dibandingkan Anna. Dan Anna bersedia mendengarkan dan memberi kesempatan pada mentor untuk berbicara.

Tabel 2: Audio-recorded data of mentor and mentee talk time.
Total time recorded in minutes and seconds

Day of practicum
Dialogue session
Session Length*
Total talk time (mins and secs)
Classroom management talk (subset of total time)
Classroom management talk (as % of total talk)
20 days


Mentor
Mentee
Mentor
Mentee
Mentor
Mentee
2
1
3:51
1:17
2:15
0:15
1:02
19%
46%

2
6:07
1:30
3:35
0:21
0:46
23%
21%
4
3
4:55
0:55
3:33
0:17
0:49
31%
23%
5
4
7:36
1:45
4:36
0:27
2:13
26%
48%
7
5
10:59
3:12
8:26
0:33
2:03
17%
24%

6
8:54
5:38
2:56
1:00
0:05
18%
5%
12
7
5:56
1:25
1:46
0:04
1:18
5%
74%
17
8
4:51
1:16
3:21
0:00
0:00
0%
0%

Perbandingan data yang direkam dalam rekaman video, audio-recorded, dialog yang terungkap adalah kurang bicaranya mentee dan lebih tinggi tingkat mendengarkan penuh perhatian mentee (no. 7 dan 8). Hal ini menunjukkan Grace dan Anna memberikan kesempatan untuk berbagi dan mendiskusikan rencana pembelajarannya dan lebih pada merenung (tabel 2).


Dalam kasus lainnya, waktu berbicara mentor (pertanyaan, saran, konfirmasi dan pujian) berkisar antara 55 detik sampai 5:38 menit, sedangkan waktu bicara mentee yang berkisar 1:14 sampai 8:26 menit.
Pada suatu sesi audio (sesi 6) mentor melakukan pembicaraan sekitar 05:38 menit yang melebihi mentee (02:56 menit). Grace menawarkan banyak saran untuk pengajaran pada topik yang baru. Saran itu seperti strategi manajemen kelas termasuk menetapkan dan fokus pada strategi, transisi antara kegiatan dan memanage tingkat keributan siswa. (Arthur- Kelly et al 2003; Snowman et al, 2009).
Salah satu contoh ketika Grace menyaatakan “Ini selalu penting setelah jam istirahat yang memiliki aktifitas tetap... dan hal ini membuat saya memberikan model pembelajaran seperti ini”. Selama sesi ini, mentee menanggapi dengan singkat “OK”. Tanggapan terhadap mentoring semua saran manajemen kelas, bahasa tubuh misalnya nada suara, dan harus kembali cepat untuk berbicara tentang isi pempelajaran dan pedagogi. Hal ini menunjukkan bahwa dia sangat ingin memberikan penjelasan dan mentee sangat ingin menerima penjelasan tentang unsur-unsur rancangan pembelajaran sebelum mentee mengajar.
Demikian juga dalam sesi terakhir (8), yang diskusinya terfokus pada isi pelajaran yang baru dan akan diajarkan dan pedagogi apa yang tepat serta strategi manajemen kelas.
Data ini menunjukkna bahwa ketika pelajaran yang panjang dan konten pembelajaran masih baru, dialog difokuskan ke tingkat yang lebih besar pada konten dan pedagogi. Dan pada pelajaran yang lebih pendek dan lebih berbasis aktivitas (seni musik atau menggambar; sesi 4 dan 5) atay oada waktu tertentu dalam sehari misalnya setelah waktu istirahat, perhatian yang lebih besar diberika kepada strategi manajemen kelas.

2. System Requirements:
Merancang pembelajaran yang relevan dan sesuai dengan rencana untuk lingkungan belajar adalah hal yang pokok dalam manajemen kelas. (Snowman et al., 2009). Mentor s yang ebagai pendamping perlu menjelaskan secara artikulasi tujuan (misalnya standar, prestasi, hasil, kebijakan dan kurikulum yang diperlukan untuk suatu sistem pendidikan.
     Dalam hal studi kasus ini, mentor menerangkan pada mentee pada pokok permasalahan dari system requirements yang mana dirasa penting untuk dapat fokus dalam kelas manajemen sebagai prioritas utama.
     System requirement ini melibatkan Anna sebagai mentee. Grace memberi Anna pengalaman pertamanya di dalam kelas mengenai kebijakan perilaku siswa didalam kelas. Mentee memilih, merencanakan dan mengimplementasikan dua jadwal pelajaran dalam seluruh kelas yang akan diajarkannya. Metor percaya bahwa siswa dapat mengembangkan perilaku yang positif sebagai hasil dari Program Achieve dan menyarankan pada Anna sebagai partisipan didalam program ini untuk agar dapat mengidentifikasikan hasil yang positif dari siswa. Observasi dan interview mengkonfirmasikan bahwa mentee mengerti pendekatan untuk seluruh pembelajaran dikelas di sekolah tersebut dalam manajemen perilaku dan menerapkan trategi pembelajarannya secara konfidensial untuk pelajaran lainnya.
     Dalam interview tersebut, Anna mengatakan bahwa program manajemen perilaku menolong saya untuk dapat masuk dalam pengajaran saya.

     3. Pedagogical Knowledge
     Mentor dan mentee dipandu dalam membuat hubungan langsung antara pengetahuan pedagogis dan manajemen kelas yang positif. Pengamatan ini direkam dalam rekaman video dialog dan rencana pelajaran mengungkapkan bahwa Anna memperhatikan saran mentor (Grace) untuk mengembangkan kemampuan bahasa siswa sebagai target dalam membangun zona proksimal yang melibatkan mereka dalam tuga-tugas yang diberikan mentee. (Vygotsky, 1986). Anna mengadakan pengulangan-pengulangan dan praktek yang dibimbing melalui kata-kata atau verbal oleh mentor dalam konsep pengetahuan pedagogis. Grace sebagai mentor menekankan perlunya siswa menggunakan terminologi yang baru untuk merefleksi dari pembelajarannya sendiri dan memperbaiki keterlibatan Anna dalam mengulang terus apa yang diajarkan dalam pelajaran IPA atau matematika.
     Observasi ini dilakukan pada bagian kedua dari pengalaman magang di sekolah lain dan membuktikan bahwa mentee telah menunjukkan strategi psikologis yang dapat diterima dan memastikan bahwa manajemen kelas siswa dapat berjalan secara efektif. (Woolfolk & Margetts, 2010).

   4. Pemodelan
     Grace tidak hanya membahas praktek pengelolaan kelas, namun model yang mereka pakai dalam pembelajaran dengan mengadaptasi pengajaran sendiri. Dalam wawancara itu, Anna yang diidentifikasi sebagai model teladan. Transisi antara kegiatan yang terstruktur seperti gerakan siswa dari bangkunya ke meja guru atau dari bangkunya ke lantai; strategi untuk siswa yang duduk diam (misalnya membaca pada makan siang, langkah-langkah diskusi untuk berpartisipasi dalam pembelajaran yang memerlukan kerapian seperti dalam pelajaran seni dan kerajian).
     Harapan pengulangan perilaku seperti ini menjadi kebiasaan siswa, dan dapat menjadi strategi yang menggunakan bahasa non-verbal dan bahasa tubuh (seperti kedekatan, kontak mata, gerakan guru didalam kelas); pertanyaan untuk memeriksa pemahaman siswa dan menanyakan kembali aturan dalam manajemen waktu dan keselamatan dalam kelas.

     5. Feed back atau umpan balik
     Selama sesi dialog, Grace menunjukkan pentingnya menyediakan umpan balik kepada mentee, dan membangun metode refleksi-diri untuk para mentee dan adanya perbaikan secara terus menerus. Grace menguraikan harapanya (merancang rencana pembelajaran, meninjau pelajaran yang dibuat mentee dan memberikan refleksi atau pemikiran untuk mentee selama minggu pertama praktek magang. Bukti lain dan langsung dalam struktur dari ke dua sesi dialog dicatat dan menjadi pemikiran untuk mentee. Para mentor dan mentee akan bertemu sebelum pelajaran untuk meninjau rencana pembelajaran dari mentee dan mendiskusikan ide-ide lebih lanjut dan strategi pengajaran termasuk strategi manajemen kelas.
     Mentor mengamati pelajaran yang diajarkan dan memberikan beberapa komentar lisan yang cepat sebagai umpan balik yang cepat dan siswa dapat mengikuti pembelajaran yang telah disiapkan. Grace sebagai mentor mempersiapkan tanggapan tertulis formal pada pengamatan pengajaran dalam pembelajaran berikutnya.
 
     Hasil dan Diskusi:
Analisis data menunjukkan bahwa manajemen kelas adalah wilayah tertentu dari pengembangan guru bahwa sebagai mentor, guru memilih untuk berfokus pada guru magang. Pembahasan ini mengungkapkan bahwa mayoritas atribut dan praktek-praktek yang diuraikan dalam 5 faktor model ini memberi dampak dalam berbagai tingkat kemampuan mentor dalam mempengaruhi pemahaman mentee dalam praktek manajemen kelas yang efektif.
   Studi kasus ini disusun dan menganalisis data sampel 30 dari 34 atribut dan praktek-praktek yang terkait dengan 5 faktor model mentoring. Data untuk pengembangan tujuan dan kurikulum, penilaian formal atau penjadwalan pada praktek periode pertama. Masalah yang berkaitan dengan tujuan, kurikukum dan penjadwalan hanya dibicarakan dalam konteks perencanaan pembelajaran mentee itu sendiri. Karena penilaian magang tidak diberikan dalam studi kasus ini.
Padahal pada universitas itu sendiri, penilaian magang menjadi fokus untuk guru magang melalui kemajuannya di dalam prakteknya.
Hasil studi ini telah menunjukkan bahwa pengumpulan data dari kasus penelitian kualitatif  dapat memberikan wawasan penting dalam mentoring. Dalam memanfaatkan 5 faktor model mentoring sebagai kerangka kerja untuk mengumpulkan dan menganalisis data mentoring dapat memberikan pemahaman yang lebih rinci tentang atribut yang efektif dan dapat menginformasikan untuk menjadi guru yang profesional. Penelitian yang akan datang dapat melanjutkan dan penelitian ini dengan menggunakan 5 faktor model mentoring dalam praktek ilmu pedagogis seperti perencanaan, persiapan, strategi pengajaran dan mempertanyakan kemampuan, penilaian dan sebagainnya. Penelitian ini diberikan untuk memahami bagaimana mementor yang efektif yang dapat memfasilitasi pengembangan antara guru atau mentor, mentee dan siswa dan dapat menanam sikap percaya diri yang efektif dan positif untuk mengajar. Mentoring yang berkualitas dapat meningkatkan perkembangan pedagogi seorang mentee dan dapat mengumpulkan bukti empiris tentang bagaimana mentor khususnya dapat menggunakan pengetahuan dan ketrampian dalam menginformasikan dan membantu pengembangan mentoring yang lebih efektif.

Kesimpulan:
            Penelitian kualitatif dilakukan dalam praktek mentoring dengan model mentoring empiris. Secara khusus, penelitian ini terfokus pada praktek mentoring yang dapat meningkatkan kualitas dari mentee. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 5 faktor model mentoring yang ada dalam kerangka penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa seorang model mentor yang melakukan praktek mentoring pada mentee dapat memfasilitasi kesempatan untuk menambah pengetahuannya dan mempengaruhi cara pengajaran dengan menggunakan pengembangan ilmu pedagogis.
Adanya review dalam rencana pembelajaran dengan cara dialog mengenai konten yang akan disajikan dapat memperbaiki ilmu pedagogis dari mentee itu sendiri. Dialog-dialog menanamkan kepercayaan diri dalam pengalaman praktek magang yang pertama dan dilanjutkan pada praktek yang ke dua yang telah dimodifikasikan dengan pembelajaran dan perbaikan mengajar dan mengetahui hasil pembelajarananya.
Dalam mementor, mentor dapat mengamati ajaran yang diberikan oleh mentee yang mempunyai kekuasaan penuh didalam kelas dan mendapat dukungan dari mentor. Umpan balik secara lisan dan tertulis yang diberikan mentor sebelum dan sesudah mengajar mentee, adalah cerminan yang berpeluang untuk membahas pembelajaran mentee didalam kelas dan mentee dapat mengintrospeksi sendiri hasil pengajaran didalam kelas dan ini dapat mengarah pada perubahan berikutnya dalam ilmu pedagogis, konten pembelajaran dan strategi manajemen kelas.
  

No comments:

Post a Comment