RANGKUMAN
KULIAH 1-7 KNOWLEDGE MANAGEMENT
FST
–201516
Dalam situasi
persaingan yang sangat ketat sekarang perusahaan selalu berusaha menciptakan
diferensiasi setiap saat untuk mencapai kinerja yang lebih baik secara
berkelanjutan. Perubahan yang makin cepat dan sulit diprediksi menuntut
perusahaan untuk harus selalu inovatif, sehingga aspek globalisasi, e-bisnis,
inovasi teknologi, kreativitas, persaingan global, penciptaan pengetahuan,
difusi teknologi baru, dan revolusi pengetahuan harus menjadi sumber
peningkatan kinerja dan daya saing perusahaan. Oleh sebab itu, untuk menjaga
kompetensi inti dan keunggulan bersaing, maka perusahaan harus mengembangkan
inovasi yang berkelanjutan, pembelajaran teknologi dan manajemen pengetahuan. Knowledge-Technology-Innovation
(KTI) dapat menjadi motor penggerak pembangunan dan pertumbuhan suatu negara.
Jepang, Korea Selatan, dan Singapura adalah negara yang memiliki sumber daya
alam dan manusia relative rendah, tetapi sanggup mencapai pembangunan ekonomi
secara berkelanjutan. KTI bukan hanya praktik di tingkat individu dan
organisasis, melainkan menjadi sangat penting dilihat dan diterapkan pada
tingkat komunitas, nasional, atau negara.
Dengan demikian, KTI dapat mendorong
terciptanya keunggulan bersaing sesuai dengan yang diharapkan dan telah menjadi
faktor yang menentukan bagi suatu negara dalam mencapai pertumbuhan ekonomi
yang stabil dan berkelanjutan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan
aspek KTI, competitive advantage, commitment, leadership, human capital,
government policy, dan competence. Penelitian dilakukan berdasarkan metode
korelasional dengan pendekatan studi literature, kemudian disimpulkan dalam
suatu model hubungan antara aspek-aspek tersebut yang dapat dijadikan sebagai kerangka
penelitian lebih lanjut. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan hubungan antara aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:
Leadership, competence, dan human capital (sebagai variabel independen)
mempunyai hubungan (pengaruh) langsung terhadap competitive advantage (variabel
dependen) atau tidak langsung (melalui KTI sebagai variabel perantara); KTI
mempunyai pengaruh langsung dengan competitive advantage; Government policy dan
commitment merupakan variabel moderator (pendorong) bagi hubungan KTI dengan
competitive advantage.
Kedudukan Pengetahuan
dalam Manajemen
Definisi Manajemen Pengetahuan
Manajemen pengetahuan didefinisikan sebagai
keseluruhan proses membangkitkan nilai organisasi dari modal intelektual
organisasi dan aset berbasis pengetahuan.
James Boomer mengartikan manajemen pengetahuan adalah
suatu proses merangkul pengetahuan sebagai aset strategis agar dapat terus
menerus memacu keuntungan bisnis dan mempertimbangkan pendekatan sebuah
perusahaan untuk mengidentifikasi,menangkap,mengevaluasi, meningkatakan dan
membagi modal intelektual perusahaan.
Tantangan dalam Penerapan
Sistem Pengetahuan Manajemen di Perusahaan
Tantangan dan hambatan yang temui pada umumnya adalah:
- Teknologi Informasi
Tanpa dukungan TI yang memadai
maka Pengetahuan Manajemen akan bersifat terdistribusi dan tidak berkembang.
Teknologi Informasi penting terutama mendukung sistem yang mudah diakses,
kecepatan dalam memperoleh informasi, memiliki sistem backup, dan sebagainya.
- Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia dalam hal ini
adalah human capital memegang peranan penting dalam keberhasilan suatu sistem
Pengetahuan Manajemen. Karena kolaborasi antara human capital dengan organisasi
capital akan menghasilkan customer capital yang sukses. Melalui manusia (human
capital) sistem Pengetahuan Manajemen ini dapat dikelola, dapat bertambah,
berkembang, inovatif dan disaring.
- Top Manajemen
Meski memiliki TI yang canggih,
dan SDM yang kreatif dan cerdas tapi tanpa memiliki sistem Pengetahuan
Manajemen.Semua pengetahuan hanya akan berada di otak masing-masing karyawan
saja.Untuk dapat terlaksananya Sistem Knowledge Management maka perlu adanya
suatu kekuatan yang lebih besar yang didengarkan oleh seluruh karyawan.
Mengapa Membutuhkan
Manajemen Pengetahuan
Subsistem dari manajemen pengetahuan yakni mendapatkan, menciptakan,
menyimpan, dan mentransfer-memanfaatkan
pengetahuan. Setiap perusahaan tentu saja berorientasi pada kebutuhan konsumen.
Untuk itu perusahaan seharusnya membutuhkan informasi yang menyangkut dinamika
pola perilaku pasar. Kebutuhan konsumen dan pelanggan semakin dinamis dengan
semakin tingginya tingkat pendidikan dan pendapatan mereka.
Tuntutan konsumen
terhadap mutu produk (barang dan jasa) dan pelayanan misalnya mendorong perusahaan
untuk menelaah kembali proses produksi, distribusi, promosi, dan pelayanan,
serta model dan fasilitas pelayanan.Untuk itu perusahaan perlu memperoleh
informasi tentang jenis teknologi produksi dan sistem pelayanan yang mutahir.
Disamping itu perusahaan pun membutuhkan peningkatan mutu sumberdaya
manusianya.Sehingga pengetahuan tentang metode rekrutmen, seleksi, pelatihan
dan pengembangan sumberdaya manusia menjadi hal yang vital.
Keberhasilan Penerapan
Manajemen Pengetahuan bergantung pada beberapa faktor:
- Kualitas pemimpin perusahaan yang didukung semua lini.
- Budaya kerja berbasis pengetahuan di kalangan manajemen dan karyawan.
- Karena sebagai sistem maka manajemen pengetahuan harus merupakan sistem bisnis perusahaan yang total.
- Artinya subsistem manajemen pengetahuan berkaitan dengan subsistem lainnya seperti dengan subsistem-subsistem manajemen SDM, manajemen finansial, manajemen kompensasi, manajemen produksi, manajemen pemasaran.
Keberhasilan organisasi dalam memenangkan persaingan
dapat di tempuh dengan membuat, dan mengimplementasikan strategi dengan
tepat.Manajemen pengetahuan diperlukan sebagai modal dasar untuk mendukung
strategi organisasi.Organisasi harus secara strategis mengeksplorasi dan
mengeksploitasi sumberdaya-sumberdaya pengetahuan dan kapabilitas organisasi
yang dimiliki.Eksplorasi dan eksploitasi yang dilakukan organisasi dilakukan
dengan dua pendekatan yaitu terhadap anggota organisasi dan organisasi itu
sendiri.Organisasi harus mampu memotivasi anggotanya untuk mendapatkan tingkat
pengetahuan yang lebih tinggi.Sedangkan, eksplorasi dan eksploitasi organisasi
dilakukan dengan cara yaitu mengembangkan pemahaman yang sama dan utuh dalam
mengukur manajemen pengetahuan, membantu anggota untuk mengenali dan
mengidentifikasi kebutuhan pengetahuannya, mempersilahkan anggota untuk
berdiskusi dan berdebat mengenai manajemen pengetahuan, mengukur dampak
manajemen pengetahuan, memfasilitasi pengetahuan melalui budaya organisasi, dan
manajemen pengetahuan direpresentasikan dalam bentuk dokumen.
Manajemen pengetahuan yang inovatif saat ini akan menjadi usang dimasa
mendatang. Persaingan akan selalu ketat dimasa mendatang, sehingga organisasi
harus terus mengembangkan manajemen pengetahuannya.Organisasi harus
memfasilitasi anggotanya untuk selalu mengembangkan diri, sehingga muncul
ide-ide kreatif baru dalam produk atau jasa yang dihasilkan.Fasilitas-fasilitas
yang dapat diberikan organisasi kepada anggotanya dapat berupa pemberian
kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, mengikuti pelatihan/seminar yang
berkaitan dengan lingkup kerja, berpartisipasi dalam organisasi profesi,
pemberian fasilitas kerja yang baik, dan aturan dan prosedur organisasi yang
memungkinkan terciptanya ide kreatif .
Dengan penerapan manajemen pengetahuan sistem,inovasi dan perkembangan
institusi menjadi lebih cepat karena dengan pola siklus manajemen pengetahuan
tersebut semua pengetahuan terarsip dengan baik dan dapat diakses dengan mudah
oleh seluruh anggota.Sikap yang harus dibudayakan untuk pembentukan sistem ini
diantaranya menciptakan, menangkap, menjaring, menyimpan, mengolah, dan
menyebarluaskan pengetahuan masing-masing
Data, informasi, pengetahuan, dan kearifan
PENGERTIAN PENGETAHUAN
Davenport dan Prusak (1998) membedakan
pengertian antara data, informasi dan
pengetahuan yaitu : “knowledge is neither
data nor information, though it related to
both, and the differences between these
terms are often a matter of degree”.
*) Disampaikan pada Workshop Pengenalan
Knowledge Management dan Knowledge
Sharing di lingkungan Perpustakaan Khusus.
Jakarta : LIPI, 17 -12-2005: 13 hal.
**) Bidang Pengembangan Sistem Pengelolaan
Dokumentasi dan Informasi , PDII-LIPI
dan
Ketua FPK.
|
1. Data is a set of discrete, objective facts about events.
Seperti yang dicontohkan oleh Davenport
dan Prusak, bila seseorang pelanggan datang untuk mengisi tanki mobilnya ke pompa
bensin, maka transaksi yang terjadi dapat digambarkan sebagian oleh data, yaitu
berapa uang yang harus dibayarkan, berapa liter bensin yang diisikan, namun
tidak
menjelaskan mengapa pelanggan itu datang
ke pompa bensin, kualitas pelayanan pompa bensin, dan tidak dapat meramalkan
kapan lagi pelanggan tersebut akan kembali ke pompa bensin. Dalam organisasi,
data terdapat dalam catatan-catatan (records) atau transaksi-transaksi.
2.
Information is data that makes a difference.
Kata inform sejatinya berarti to give shape
atau untuk memberi bentuk, dan informasi ditujukan untuk membentuk orang yang mendapatkannya,
yaitu untuk membuat agar pandangan atau wawasan orang tersebut berbeda
(dibandingkan sebelum memperoleh informasi). Sebagai contoh pelanggan mengisi
tanki mobilnya dengan bensin premix, bukan premium, pernyataaan tersebut
merupakan informasi. Menurut Peter
Drucker, tidak seperti data, informasi mempunyai makna (meaning) yang
ditimbulkan oleh relevansi dan tujuan yang diberikan oleh penciptanya. Misalnya
pemberi informasi menyampaikan bahwa pelanggan mengisi tanki mobilnya dengan
bensin premix, bukan premium, mengandung tujuan tertentu yang dikaitkan dengan
lawan bicara, atau mengandung relevansi tertentu yang dikaitkan dengan lawan
bicara, atau mengandung relevansi tertentu yang dikaitkan dengan topic pembicaraan.
Davenport dan Prusak memberikan metode mengubah data menjadiinformasi melalui
kegiatan yang dimulai dengan huruf C: contextualized, calculated, corrected,
dan condensed. Dalam organisasi, infomasi terdapat dalam pesan (messages).
3.Knowledge
is a fluid mix of framed experience, values, contextual information,and
expert
insight that provides a framework for evaluating and incorporating new
experiences
and information.
It originates and is applied in the minds
of knowers. In organizations, it often becomes embedded not only in documents
or repositories but also in organizational routines, processes, practices, and
norms. Davenport dan Prusak memberikan
metode mengubah informasi menjadi pengetahuan
melalui kegiatan yang dimulai dengan huruf
C: comparation, consequences, connections, dan conversation. Dalam organisasi,
pengetahuan diperoleh dari individu-individu atau kelompok orang-orang yang
mempunyai pengetahuan, atau kadang kala dalam rutinitas organisasi. Pengetahuan
diperoleh melalui media yang terstuktur seperti: buku dan dokumen, hubungan
orang-ke-orang yang berkisar dari pembicaraan ringan hingga ilmiah.
Dalam buku yang ditulis oleh Von Krogh,
Ichiyo, serta Nonaka 2000,disampaikan ringkasan gagasan yang mendasari pengertian
mengenai pengetahuan :
1.
Pengetahuan merupakan justified
true believe. Seorang individu membenarkan
(justifies) kebenaran atas kepercayaannya berdasarkan
observasinya mengenai
dunia. Jadi bila seseorang menciptakan pengetahuan, ia
menciptakan pemahaman
atas suatu suatu situasi baru dengan cara berpegang pada
kepercayaan yang telah
dibenarkan. Dalam definisi ini, pengetahuan merupakan
konstruksi dari
kenyataan, dibandingkan sesuatu yang benar secara
abstrak. Penciptaan
pengetahuan tidak hanya merupakan kompilasi dari
fakta-fakta, namun suatu
proses yang unik pada manusia yang sulit disederhanakan
atau ditiru.
2.
Perasaan atau sistem
kepercayaan itu bisa tidak disadari.
pengetahuan merupakan sesuatu yang eksplisit sekaligus
terbatinkan (tacit).
Beberapa pengetahuan dapat dituliskan di kertas,
diformulasikan dalam bentuk
kalimat-kalimat, atau diekspresikan dalam bentuk gambar.
Namun ada pula
pengetahuan yang terkait erat dengan perasaan,
keterampilan dan bentuk bahasa
utuh, persepsi pribadi, pengalaman fisik, petunjuk
praktis (rule of thumb) dan
intuisi. Pengetahuan terbatinkan seperti itu sulit
sekali digambarkan kepada orang
lain. Mengenali nilai dari pengetahuan terbatinkan dan
memahami bagaimana
menggunakannya merupakan tantangan utama organisasi yang
ingin terus
menciptakan pengetahuan.
3.
Penciptaan pengetahuan secara
efektif bergantung pada konteks yang
memungkinkan terjadinya penciptaan tersebut. Apa yang
dimaksud dengan
konteks yang memungkinkan terjadinya penciptaan
pengetahuan adalah ruang
bersama yang dapat memicu hubungan-hubungan yang muncul.
Dalam konteks
organisasional, bisa berupa fisik, maya, mental atau
ketiganya. Pengetahuan
bersifat dinamis, relasional dan berdasarkan tindakan
manusia, jadi pengetahuan
berbeda dengan data dan informasi, bergantung pada
konteksnya.
4.
Penciptaan pengetahuan
melibatkan lima langkah utama, Von Krogh, Ichiyo
serta Nonaka (2000) bahwa penciptaan
pengetahuan organisasional terdiri dari
lima langkah utama yaitu:
- berbagi pengetahuan terbatinkan;
- menciptakan konsep;
- membenarkan konsep;
- membangun prototype; dan
- melakukan penyebaran pengetahuan di berbagai fungsi dan tingkat di
- organisasi.
Pengembangan
knowledge management dalam kegiatan bisnis
Knowledge
Management adalah seni menciptakan nilai tambah dengan meningkatkan intangible asset. Jadi kata kuncinya ialah nilai tambah (value). Knowledge
Management yang tidak berfokus pada nilai tambah bukanlah Knowledge Management
yang benar. Nilai tambah akan selalu dan pasti menjadi dasar dari apapun yang
dilakukan Knowledge Management. Semua yang dilakukan oleh Knowledge Management
harus memiliki nilai tambah, entah itu berupa sharing, repository,
community of practice, knowledge mapping atau apapun itu. Dan karena
perusahaan adalah sebuah organisasi yang menjual nilai tambah, maka Knowledge
Management adalah strategi bisnis yang paling tepat untuk mengembangkan
perusahaan.
Ketika
kita berbicara tentang intangible asset maka fokus utamanya
ialah dua komponen paling penting, yaitu sumber daya manusia (people)
dan pengetahuan (knowledge). Manusia adalah faktor kritis dalam
menjalankan suatu bisnis. Kok bisa ? Mudah saja, bisnis mana yang berjalan
tanpa manusia ? Saya yakin tidak ada, bahkan perusahaan yang sudah secara penuh
menggunakan mesin sekalipun butuh manusia untuk merawat mesin tersebut.
Terlepas dari mesin itu sendiri buatan manusia :). Banyak kasus ketika seorang
pegawai pindah atau tidak ada, bisnis tidak bisa berjalan. Yang perlu
diperhatikan bahwa bukan manusia biasa yang bisa menentukan sukses atau
tidaknya suatu bisnis, tetapi manusia yang punya kompetensi dan pengetahuan.
Apa yang membedakan seorang Office Boy dengan Direksi ?
Gampang, pengetahuan dan pengalamannya. Itulah mengapa gaji Direksi lebih
tinggi dari Office Boy. Direksi punya pengetahuan yang dapat
memberikan nilai tambah lebih besar dari Office Boy sehingga wajar kalau
gajinya lebih besar. Jelas bahwa yang menjadi faktor kritis dari perusahaan
ialah manusia (people) dan pengetahuan (knowledge).
Kalau
mau bahas hubungan manusia dan pengetahuan, saya butuh lebih banyak halaman
lagi. Jadi kita tinggalkan sejenak pembahasan manusia dan pengetahuan. Kita
kembali ke fokus awal tentang Knowledge Management dan strategi bisnis. Ketika
perusahaan menjalankan bisnis, apa yang paling dibutuhkan selain produk,
fasilitas, dan sistem ? Jawabannya sudah jelas, pengetahuan. Saya akan
menjelaskan ini dengan contoh kasus, yaitu ketika saya bekerja di salah satu
perusahaan distributor yang bergerak dibidang pharmaceutical.
Saat
itu kami menjadi perwakilan suatu produk dari perusahaan Prancis yang berfokus
dalam pemanis alami berbahan dasar Thaumatin. Produk itu sendiri merupakan
inovasi dalam bidangnya dan memiliki pangsa pasar yang terbuka untuk
produk-produk makanan dan pharmaceutical. Karena produk ini sendiri merupakan
inovasi, ketika dikenalkan di pasar, kami agak kesulitan untuk meyakinkan
beberapa client kami. Alasannya karena produk ini tidak memberikan hasil yang
maksimal ketika diaplikasikan. Ada saja masalahnya, mulai dari rasa yang tidak
muncul, ada endapan, larutan tidak stabil dan sebagainya. Produk ini pun
kelihatannya tidak akan bertahan lama. Tetapi karena keyakinan yang besar dari
principal kami, maka terobosan dilakukan. Didatangkanlah ahli dari perusahaan
Perancis tersebut. Setelah serangkaian perjalanan dan diskusi dengan klien,
masalahnya diketahui. Salah satunya ialah karena teknik aplikasi produk itu
sendiri. Dan seperti yang telah diduga. Produk itu berhasil. Terakhir sebelum
saya resign dari perusahaan tersebut, produk ini menjadi salah satu kunci utama
keberhasilan tim kami.
Apa
pelajaran yang bisa kita ambil ? Bahkan sebuah produk yang bagus, inovatif dan
bermanfaat tidak bisa digunakan tanpa pengetahuan yang memadai. Dalam kasus
ini, pengetahuan tentang aplikasi produk. Lihat bagaimana pentingnya
pengetahuan. Tanpa pengetahuan, bisnis tidak akan berkembang dan dengan
pengetahuan pula bisnis bisa berkembang. Fakta ini yang menjadi awal dari
Knowledge Management. Tahapan awal yang harus dilakukan perusahaan ialah
mengidentifikasi pengetahuan penting. Definisi pengetahuan penting sangat
mudah, yaitu pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis dan tanpa
adanya pengetahuan tersebut, bisnis tidak akan berjalan. Artinya, pengetahuan
yang harus diidentifikasi harus bersifat strategis dan sesuai dengan proses bisnis
perusahaan. Metode yang biasa digunakan dalam identifikasi pengetahuan penting
ialah Knowledge Mapping (pemetaan pengetahuan). Kita simpan
pembahasan Knowledge Mapping untuk artikel lainnya
Singkatnya
ialah bahwa jika kita ingin melakukan bisnis maka langkah paling awal adalah
penguasaaan terhadap pengetahuan penting bisnis tersebut. Hubungan ini lebih
dikenal sebagai Knowledge – Strategy Link. Lalu
bagaimana jika kita ingin mengembangkan bisnis ? Tahapan awal pasti dengan
menyusun strategi yang dapat mencapai tujuan bisnis tersebut. Dan bagaimana
cara menerapakan strategi tersebut ? Anda pasti tahu jawabannya. Tentu saja
dengan menguasai pengetahuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan strategi
itu. Ini yang lebih dikenal sebagai Strategy – Knowledge Link. Untuk
lebih mudahnya saya akan jelaskan melalui gambar berikut :
Ketika
kita melihat gambar tersebut akan semakin jelas kemana arahan Knowledge
Management selanjutnya. Berawal dari bisnis yang sudah berjalan saat ini (current
bussines result), kita membutuhkan pengetahuan untuk melakukan bisnis
tersebut (current competencies). Jika kita ingin mengembangkan bisnis
dengan menyusun target baru (new business target) maka ada kesenjangan (gap)
yang muncul. Ini disebut strategy gap. Ketika ada target bisnis
baru, maka pasti ada kebutuhan pengetahuan baru (competencies required by
business) yang harus dimiliki untuk melakukan bisnis baru. Dari sinilah
muncul kesenjangan (gap) antara pengetahuan yang sudah ada dengan
kebutuhan pengetahuan baru. Ini yang kita sebut sebagai knowledge gap.
Inilah
kerangka berpikir yang menjadi dasar dari Knowledge Management. Pengetahuan (knowledge)
harus sesuai dengan kebutuhan bisnis dan pengembangan pengetahuan pun harus
sesuai dengan strategi pengembangan bisnis. Dengan pola pikir ini, Knowledge
Management akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan atau organisasi. Dasar
pemikiran ini pula yang menjadi acuan untuk menjawab pertanyaan seberapa
penting Knowledge Management bagi perusahaan. Karena pengetahuan sebagai aset utama
bagi perusahaan, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan
pengetahuan (knowledge management) menjadi penting dan strategis.
Oleh karena itu
bagaimana membuat pekerja dalam perusahaan lebih produktif sehingga dapat menyebutkan
bekerja cerdas.
Pengertian Kerja Cerdas adalah menjadi lebih produktif
Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar
istilah kerja cerdas? Ada yang mengartikan bahwa kerja cerdas itu adalah sebuah
model kerja di mana seseorang melakukan pekerjaan sedikit tapi hasilnya besar.
Berangkat kerja tanpa terikat pada aturan atau jam kerja formal atau berbisnis
jarang-jarang tetapi sekali mendapatkan untung, untungnya cukup untuk dinikmati
berbulan-bulan atau cukup untuk sekian minggu ke depan.
Orang yang berpendapat demikian menganut teori
Paretto yang 80/20 itu (The law of imbalance). Kalau merujuk teori ini, berarti
80 % penghasilan orang itu dihasilkan dari 20 % aktivitas kerja atau bisnisnya.
Aktivitasnya hanya 20 % tapi penghasilannya 80 %. Mungkin, karena orang seperti
itu sudah lihai dalam membidik peluang, maka terwujudlah kerja cerdas dalam
pengertian seperti di atas.
Terus terang, meski pengertian di atas sering
didengar dalam pembicaraan, tetapi dalam prakteknya masih jarang terlihat. Yang
kerap dijumpai, kalau ada orang yang mendapatkan hasil banyak, orang itu juga
bekerja banyak. Konon, Bill Gate yang dikenal orang pintar dan orang kaya,
punya jam kerja yang jauh lebih banyak dibanding dengan karyawannya. Hanya
bedanya, Bill Gate tidak merasakan pekerjaannya sebagai tekanan yang membebani.
Tak hanya Bill Gate saja. Di beberapa stasiun teve
sekarang ini kerap ditayangkan sukses stori para pengusaha lokal, baik UKM atau
Non-UKM. Prinsip mendasar dalam bekerja pada umumnya adalah jujur, disiplin, bekerja keras, menjaga
kepercayaan, dan lain sebagainya.
Terlepas apapun orang mengartikan kerja cerdas, dalam
membahas kerja cerdas mempunyai pengertian: bagaimana kita bisa menjadi lebih produktif dengan alokasi waktu kerja
yang sama atau dengan menggunakan peralatan yang sama. Atau dalam pengertian:
bagaimana kita bisa memproduksi solusi (barang atau jasa) yang lebih banyak
atau lebih cepat dalam waktu yang sama dengan menggunakan peralatan yang sudah
kita miliki.
Contoh cerita hasil kerja dari Frederick W. Taylor
pada tahun 1911. Taylor adalah seorang insinyur yang bekerja di pabrik. Taylor
tidak puas dengan produktivitas para pekerja yang sangat rendah kala itu.
Melihat keadaan seperti itu, Taylor menawarkan revolusi mental yang kemudian
dikenal dengan 4 prinsip manajemen.
- Mengembangkan metode, konsep, atau ilmu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakanpekerjaan dari pekerjaan itu atau memunculkan teori aplikasi yang terbaik dari pekerjaan yang dilakukan
- Memilih dan melatih para pekerja dengan pertimbangan dan keputusan yang logis,
- Menciptakan komunikasi yang sinergis antara manajemen dan pekerja
- Pembagian kerja dan tanggung jawab yang tegas.
Berdasarkan kondisi dan situasi kontekstual kala itu,
konon revolusi mental yang ditawarkan Taylor ini berhasil meningkatkan produktivitas
pekerja sampai mencapai 200 %. Atas keberhasilan yang dicapai, Taylor kemudian
diberi gelar Bapak Manajemen Ilmiah.
Contoh yang ringan bisa kita ambil dari kebiasaan
sehari-hari. Ketika bicara produktivitas, pasti berbeda antara orang yang bekerja
dengan target di kepalanya dan orang yang bekerja tanpa ada target di
kepalanya. Pasti berbeda antara orang yang bekerja dengan mengembangkan tehnik
dan orang yang bekerja dengan tanpa mengembangkan tehnik. Pasti berbeda antara
orang yang bekerja dalam keadaan marah dan orang yang bekerja dalam keadaan
happy. Pasti berbeda antara orang yang bekerja berdasarkan prioritas dan orang
yang bekerja asal-asalan. Pasti berbeda antara orang yang bekerja dengan konsep
dan orang yang bekerja tanpa konsep. Bahkan terkadang ada bedanya antara kita
bekerja dengan menelpon orang lebih dulu dan bekerja lebih dulu baru menelpon
orang.
Contohnya, intinya, seperti kata orang bijak, di
semua pekerjaan di dunia ini ada rahasia Tuhan. Rahasia itu jika semakin kita
gali tidak berarti semakin habis. Justru rahasia itu semakin bertambah. Bahkan
rahasia itu tidak akan habis ditulis dengan tinta air laut. Ini terjadi dari
mulai bagaimana seorang pelayan diskotik menuangkan minuman dari botol ke gelas
dengan gayanya yang khas sampai ke bagaimana seorang arsitek merancang bangunan
bertingkat. Tugas kita adalah sebetulnya menggali rahasia-rahasia itu sehingga
kita bisa selalu meningkatkan produktivitas.
Dengan bertambahnya kemampuan untuk memproduksi
solusi yang lebih besar dan lebih cepat, maka secara logis ini akan
meningkatkan penghasilan kita.
Syarat menjadi
lebih produktif
Beberapa syarat mental di bawah ini sebenarnya adalah
tambahan dari yang sudah dimiliki berdasarkan pengalaman sehari-hari. Sehingga
dalam mengembangkan standar prestasi harus sesuai dengan yang dikerjakan atau
perkembangan sehari-hari
Iika standar yang yang diinginkan terlalu rendah,
biasanya produktivitas akan rendah. Tapi, jika terlalu tinggi atau terlalu
banyak, akan sulit dijangkau dan membingungkan sehingga hasilnya sedikit.
Karena itu ada yang menyarankan, little is more and more is little. Dengan kata
lain, supaya tetap produktif, berarti perlu memberi standar yang benar-benar sesuai
dengan dinamika perkembangan setiap orang. Jangan terlalu rendah atau jangan
terlalu sedikit. Tapi, jangan juga terlalu tinggi atau jangan terlalu banyak.
Mengasah
kreativitas
Kreatif atau tidak kreatif, pada akhirnya adalah
masalah manajemen batin. Suasana atau fasilitas memang mendukung kreativitas,
tapi jika batin ini tidak kreatif, fasilitas dan suasana itu tidak ada gunanya.
Mengasah kreativitas ini bisa kita lakukan dengan menyediakan ruang untuk
menemukan berbagai kemungkinan untuk menciptakan metode, cara atau tehnik baru
yang lebih efektif dan lebih efisien dan yang membuat kita menjadi lebih
produktif.
Soal apa bentuknya, bagaimana caranya dan lain-lain, dan
tergantung dari masing-masing individu. Ini mengingat, biasanya, the best
tehnique is always not in the book. Tehnik, metode atau cara yang kita dapatkan
dari orang lain atau dari buku, ini umumnya sebagai “an aid” atau bantuan buat
kita untuk melakukan discovery atau eksplorasi.
Menajamkan
fokus
Produktivitas sangat erat hubungannya dengan soal
fokus. Fokus, karena itu merupakan kekuatan. Contoh sepele, misalnya: jika kita
melihat benda di depan mata tetapi pikiran kita tidak fokus, maka produktivitas
penglihatan kita juga tidak bagus. Ini terjadi sampai ke hal-hal yang sangat
mendasar dalam hidup manusia. Jika seseorang memfokuskan pikirannya untuk
melihat masalah, maka yang menjadi kesimpulan di batinnya adalah masalah.
Sebaliknya, jika seseorang memfokuskan pikirannya untuk melihat peluang, maka
yang menjadi kesimpulan di batinnya tentang dunia ini adalah peluang. Meski
awalnya ini adalah soal kesimpulan di batin, tetapi pada tahapan tertentu akan
empengaruhi tindakan dan produktivitasnya. Sehingga hubungan yang erat antara
produktivitas dan fokus, teori manajemen dapat membagi aktifitas menjadi:
a) prioritas
b) penting
c) mendesak
d) distraksi
Jika gagal membedakan antara prioritas dan distraksi
(aktivtas yang tidak prioritas, tidak penting dan tidak mendesak), akan
mengakibatkan tidak focus dalam berpikir, sehingga produktivitas akan terancam.
Menggali Tacit
knowledge
Istilah Tacit Knowledge (Robert J. Stenberg) adalah
semacam pengetahuan spesifik tentang sesuatu yang diperoleh seseorang dari kehidupannya.
Tacit Knowledge ini punya ciri khas antara lain:
Pengetahuan itu adalah sebuah prosedur di dalam diri
seseorang tentang bagaimana sesuatu harus dikerjakan. Pengetahuan itu merupakah
buah dari melakukan sesuatu, bukan buah dari diajar orang lain. Pengetahuan itu
bersifat sangat pribadi.
Contoh: Seorang sopir yang sudah berpengalaman, pasti
memiliki prosedur batin tentang bagaimana menjalankan kendaraan yang diajarkan
oleh pengalamannya. Prosedur batin itu biasanya tidak dimiliki oleh seoran
sopir yang baru lulus dari sekolah montir. Kita sering menyebutnya dengan
istilah “feeling” atau gerakan reflek, atau juga disebut beyond the technique.
Kaitannya dengan produktivitas di sini sangat jelas.
Seorang sopir yang sudah bekerja dengan feeling tadi, pasti lebih produktif.
Dia lebih tahan lama, lebih rileks, dan lebih cepat.
Menjaga
harmonitas
Kehidupan yang harmonis akan didapat jika
produktivitas dan alam raya seimbang dan harmonis. Belajar dari praktek hidup,
mayoritas penyakit yang merupakan ancaman produktivitas, contohnya penyakit
jiwa atau raga, mulanya muncul dari pengabaian kecil (ignorance) yang kemudian
menimbulkan ketidakhamonisan, atau ketidakseimbangan ke hampir seluruh wilayah
hidup.
Contohnya adalah kurang tidur. Ketika kurang tidur,
yang terjadi bukan hanya kita butuh tidur di siang hari sebagai pengganti waktu
tidur yang telah digunakan untuk yang lain. Kurang tidur yang sudah sampai pada
tingkat overdosis, bisa menganggu hubungan orang tersebut dengan pekerjaan,
dengan orang lain, dan seterusnya, yang akhirnya mengakibatkan produktivitas
rendah.
Perlindungan
batin
Batin bukan berarti emosi. Melindungi batin, bukanlah
melindungi emosi. Kalau konteksnya produktivitas, batin perlu dilindungi dari
kotoran yang menganggu produktivitas. Biasanya, kotoran itu adalah masalah yang
diciptakan sendiri secara tidak sengaja atau masalah yang didatangkan orang
lain untuk diri sendiri – yang tidak kita oleh menjadi vitamin batin. Maksudnya
? Kita sering mendengar ucapan, kritik atau pun pendapat orang lain yang tidak
enak mengenai diri kita, cara kerja maupun hasil pekerjaan kita.
Sampah atau kotoran yang mengotori batin harus
dibuang dan jika bertahan dalam batin berarti warning signal gagal dan ini
perlu direnungkan. Jika mau belajar dan bertumbuh, mata batin yang harus
menangkap “kata-kata” yang ditujuan pada diri sendiri, bukan telinga kita. Mata batin, dapat melindungi kita dari self-denial
(pengingkaran kenyataan diri). Kita bisa tutup telinga – tapi tidak bisa
menutup mata batin. Kejernihan suara batin bisa menuntun kita bekerja cerdas,
kalau kita mau mendengar tuntutannya.
Apa mungkin kita sanggup membersihkan batin dari
masalah untuk sekedar menjadi lebih produktif? Kalau konteksnya praktek hidup,
maksudnya yang lebih tepat bukanlah bersih dalam arti tidak ada masalah atau
lari dari masalah. Selain mustahil, pun juga ini malah tidak produktif.
Maksudnya adalah menyelesaikan masalah secara sehat, benar, jujur dan
proporsional. Kalau kita proporsional dalam memikirkan, bersikap dan bertindak,
maka produktivitas kita tidak terganggu dengan masalah yang ada. Jika kita
sedikit-sedikit sakit hati atau terlalu memasukkan hati ulah orang lain, dan
tidak menjadikannya “obat pahit”, ini bisa mengganggu produktivitas. Batin kita
akan bekerja untuk memikirkan orang lain dalam pengertian memikirkan yang tidak
perlu, bukan memikirkan bagaimana memperbaiki dan mengembangkan diri, serta
memproduksi solusi yang lebih banyak atau lebih cepat.
Thank you!!
Thank you!!


No comments:
Post a Comment